Menjawab Abu Salafy (1)

Saya telah melihat bantahan dari Abu Salafy terhadap tulisan saya sebelumnya. Sepertinya yang bersangkutan kurang menangkap esensi, critical point dan fokus dari tulisan saya. Apa yang saya tuliskan adalah lebih tertuju kepada pengingkaran atas sikap kasar dan celaan dalam tulisan Abu Salafy kepada ulama dan pihak yang berseberangan dengannya dalam masalah ini, dibandingkan upaya tarjih secara fiqh.

Tulisan kali ini pun masih tetap koridor spirit tulisan sebelumnya.Kali ini saya hanya akan menyoroti hal-hal yang kiranya patut disoroti.Adapun pembahasan fiqh yang lebih komprehensif mengenai masalah ini, maka in sya’a’Llah semoga saja Allah memberi kemudahan untuk menyusunnya.

Coba perhatikan kutipan dari tulisan saya sebelumnya, bahkan saya sampai mem-bold-nya:

 

“Dari penjelasan di atas, tampak jelas bahwa masalah ini diperselisihkan di kalangan ulama, Salaf maupun Khalaf. Karena itu, tidak layak apabila seseorang menguatkan suatu pendapat tertentu dalam hal ini lalu menyerang orang lain yang berbeda pendapat.

 

Sungguh mengherankan, saya tidak tahu apakah yang bersangkutan pura-pura bodoh atau memang ‘bodoh’, tidak mengetahui bahwa masalah ini diperselisihkan di kalangan ulama sejak zaman baheula. Jika yang bersangkutan ‘bodoh’, maka hendaklah ia memfokuskan diri untuk belajar dan berhenti mencela ulama yang jelas-jelas jauh lebih alim darinya. Jika yang bersangkutan pura-pura bodoh, maka ia telah melakukan pengkhianatan ilmiah untuk memuaskan hawa nafsunya dalam hal mencela. Wa’Llahu’l musta`an.” [Selesai kutipan.]

 

Karena itu, dalam tulisan sebelumnya, saya jelaskan bahwa masalah ini merupakan perkara ijtihadiyyah yang debatable di kalangan ulama, Salaf maupun Khalaf, serta saya jelaskan bahwaulama yang berpegang dengan zahir hadits yang menyebutkan bahwa shalat diputuskan oleh wanita (yang baligh), keledai dan anjing hitam itu pun memiliki argumen yang patut diperhitungkan (mu’tabar), baik secara nash maupun logis, sehingga tidak patut untuk dicela, terlepas dari setuju atau tidak setuju. Tentu demikianlah adab dalam menghadapi perkara khilafiyyah ijtihadiyyah sebagaimana dinyatakan oleh ulama. Saya belum mengetahui adanya perselisihan ulama dalam hal adab tersebut. Saya rasa thalibu’l `ilm yang masih sangat pemula pun seharusnya mengetahui hal ini. Bagaimana dengan Anda, Abu Salafy? Namun, saya juga melihat bahwa tulisan sanggahan balik Abu Salafy kepada saya sudah jauh lebih baik kondisinya.

Kaidah fiqh menyebutkan: “La inkara fi’l masa’il khilafiyyah (ijtihadiyyah).” Tidak ada pengingkaran dalam masalah khilafiyyah (debatable) yang didasarkan kepada ijtihad (pengingkaran yang dimaksud dalam kaidah ini bersifat lebih spesifik, yaitu pengingkaran yang sampai pada tingkatan celaan atau pemaksaan, dan bukan berarti mengunci mati pintu diskursus atau diskusi, di mana dalam diskusi maupun tarjih pasti ada pengingkaran terhadap argumen “lawan”. Kalau ada yang mengatakan bahwa saya juga mencela Abu Salafy dalam hal ini, maka sebab celaan saya adalah karena pengabaian yang bersangkutan terhadap adab dalam diskursus perkara khilafiyyah ijtihadiyyah tersebut.

Dalam tulisan sebelumnya, saya jelaskan pula bahwa berpegang dengan zahir hadits dimaksud sama sekali tidak melazimkan pelecehan gender tertentu—di mana inilah isu utama yang diangkat oleh Abu Salafy untuk mencela pihak yang berseberangan dengannya. Memang hal ini tidak sebagaimana dipahami oleh As-Sayyidah Ummu’l Mu’minin, Ibunda `Aisyah—semoga ridha Allah senantiasa tercurah kepada beliau. Argumen logis untuk itu pun sudah saya paparkan. Sayang sekali, argumen tersebut sampai saat ini belum disanggah balik oleh Abu Salafy.

Dalam disiplin ilmu ushul fiqh, ulama berbeda pendapat dengan kehujjahan ucapan Sahabat (hujjiyyah qaul ash-shahabi), akan tetapi ulama sepakat bahwa ucapan seorang Sahabat bukanlah hujjah apabila ucapan tersebut diselisihi oleh Sahabat lainnya. Dengan demikian, maka pendapat Ibunda `Aisyah (yang notabene termasuk kategori Sahabat dalam ushul fiqh) bukanlah hujjah yang mesti diikuti karena telah diselisihi oleh sejumlah Sahabat lain. Dan, mengingat ucapan Ibunda `Aisyah dalam hal ini bukanlah hujjah, maka ia dapat diterima atau ditolak setelah ditimbang dengan prinsip ilmiah serta argumen logis yang relevan.

Imam Asy-Syaukani berkata, “Yang dimaksud dengan “putusnya” shalat adalah “batalnya” shalat, demikianlah pendapat jamaah dari Sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Anas, dan Ibn `Abbas dalam sebuah riwayat dari beliau.” Beliau kemudian berkata, “Dari kalangan Tabi`in yang berpendapat bahwa shalat dibatalkan oleh tiga hal tersebut adalah Al-Hasan Al-Bashri dan Abu’l Ahwash, sahabat Ibn Mas`ud.” [Nailu'l Authar, vol. III, hal. 11.]

Ibn Baththal berkata, “Hadits (`Aisyah) tersebut dan hadits-hadits semisalnya yang di dalamnya terdapat penyebutan membujurnya wanita di hadapan orang yang shalat menunjukkan bolehnya wanita duduk di hadapan orang yang shalat, dan bukan dalil atas dibolehkannya wanita berlalu di hadapan orang yang shalat.” [Nailu'l Authar, vol. III, hal. 10.]

Apa yang dapat ditangkap dari kutipan di atas? Artinya, jamaah Sahabat tersebut menilai bahwa hadits yang tengah dipermasalahkan adalah valid, yang mana hal ini bertentangan dengan pendapat Ibunda `Aisyah, yang zahirnya menolak validitas hadits tersebut. Dengan demikian, kita harus melihat masalah secara objektif. Penolakan Ibunda `Aisyah terhadap validitas hadits tidak dapat diterima begitu saja, karena bertentangan dengan pendapat sebagian Sahabat lain.

Selanjutnya, apakah juga akan dicela jamaah Sahabat yang pendapatnya menyelisihi pendapat `Aisyah tersebut, juga ulama Salaf dari kalangan Tabi`in dan seterusnya yang menyepakati jamaah Sahabat tadi, dengan isu pelecehan wanita maupun isu Wahhabisme? Jika jawabnya adalah iya, maka saya hanya bisa katakan inna li’Llahi wa inna ilaihi raji`un…. Sikap yang benar tentu saja adalah “membiarkan” masing-masing berjalan dengan ijtihad-nya tanpa saling mencela.

Saya pribadi juga belum mendapati ulama yang menggunakan atsar `Aisyah untuk menolak validitas hadits yang menyebutkan bahwa shalat diputuskan oleh wanita (yang baligh), keledai dan anjing hitam, terlebih lagi sampai menyatakan bahwa hadits ini palsu. Bagaimana mungkin, sementara hadits tersebut tercantum dalam Shahih Muslim dan berbagai kitab hadits lainnya, melalui transmisi-transmisi (sanad) yang dapat dipertanggungjawabkan (valid).

Sependek pengetahuan saya, ulama yang tidak berpegang dengan zahir hadits tersebut pun tidak menolak eksistensi maupun validitas hadits tersebut. Artinya, mereka hanya “menolak” untuk memahami dan memaknai hadits tersebut berdasarkan zahirnya (yakni, menakwilkan hadits itu), dan bukan menolak segi eksistensi dan validitasnya. Hal ini tentu sangat jauh berbeda dengan tindakan Abu Salafy sebelumnya. Tentu sangat berbeda antara menakwil (baca: menolak zahir) hadits dan menolak eksistensi hadits. Imam An-Nawawi berkata, “Malik, Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i, serta mayoritas (jumhur) ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf mengatakan bahwa shalat tidak dibatalkan dengan lewatnya hal-hal tersebut. Mereka menakwilkan hadits di atas bahwa yang dimaksud dengan ‘putus’ adalah kurang sempurnanya shalat karena ketersibukan hati terhadap hal-hal tadi. Dan yang dimaksudkan bukanlah batalnya shalat.” [Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, vol. IV, hal. 227.]

Adapun adanya sabda Nabi ` yang valid yang zahirnya kontradiktif dengan hadits yang menyebutkan bahwa shalat diputuskan oleh wanita (yang baligh), keledai dan anjing hitam, maka tidak dapat dikatakan bahwa Nabi ` menolak eksistensi hadits tersebut, sebagaimana klaim Abu Salafy. Sungguh sebuah klaim yang sangat fatal kekeliruannya. Mana ulama yang mengatakan demikian? Bukankah hadits-hadits yang zahirnya tampak saling kontradiktif demikian banyak bertebaran dalam kitab fiqh dan sebagainya. Karena itulah ada prinsip-prinsip al-jam` wa’t ta`arudh wa’t tarjih (kompromisasi, kontradiksi dan pemilihan terkuat), di antaranya al-`amm wal khashsh, at-muthlaq wa’l muqayyad, azh-zhahir wa’l mu’awwal, al-mutsbit wa’n nafi dan lain sebagainya, sebagaimana pembahasan disiplin ilmu ushul fiqh. Demikian pula halnya dengan Sahabat dan ulama yang diklaim menolak (eksistensi) hadits dimaksud, selain Ibunda `Aisyah. Mana bukti tegas atau ulama yang menyatakan demikian?

Tentang Ucapan Imam Ahmad yang Sengaja Tidak Saya Kutip

Abu Salafy berkata:

“Ketika saudara Abu Faris An-Nuri mengutip keterangan Imam An Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, ia hanya mengutip yang tidak merugikan kesimpulannya semata, sementara keterangan para pembesar ulama yang dipandangnya merugikan ia tinggalkan. Perhatikan bagaimana Imam Ahmad menolak hadis itu dalam lanjutan keterangan Imam an Nawawi sementara saudarai kita Abu Faris melompatinya/tidak menyebutnya:

 

Imam An-Nawawi berkata, “Ulama berbeda pendapat tentang hadits ini. Sebagian mereka berpendapat bahwa hal-hal tersebut di atas memutuskan shalat.” [Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, vol. IV, hal. 227.],
padahal setelah itu langsung An-Nawawi menyebutkan: Imam Ahmad ra. berkata, “Shalat hanya terputus kerana anjing hitam, dan tentang himâr/keledai dan wanita di dalam hati saya ada sesuatu.” [Selesai kutipan.]

 

Saya katakan: Memang ucapan Imam Ahmad dimaksud sengaja tidak saya kutip, karena pada dasarnya tujuan saya hanyalah menegaskan bahwa masalah ini diperselisihkan oleh ulama sehingga tidak patut bagi Abu Salafy untuk menyikapinya dengan celaan, dan bukan untuk membuat pembahasan komprehensif seputar masalah ini. Ucapan Imam Ahmad pun pada dasarnya sudah diwakili oleh kutipan lain dari Imam An-Nawawi yang menyebutkan bahwa mayoritas ulama menakwil zahir hadits tersebut.

Namun, benarkah Imam Ahmad menolak hadits tersebut, sebagaimana klaim Abu Salafy? Jika yang dimaksud dengan “menolak” di atas adalah tidak berpegang mentah-mentah dengan zahir hadits maka pernyataan ini benar (dan sekali lagi, hal ini sejalan dengan kutipan saya bahwa mayoritas ulama menakwil hadits yang tengah dibicarakan, sehingga kutipan dari Imam Ahmad tidak diperlukan). Namun, jika yang dimaksud adalah menolak eksistensi hadits tersebut, maka sungguh sangat jauh panggang dari api! Bukankah dalam kutipan di atas disebutkan bahwa Imam Ahmad berpendapat shalat diputuskan dengan anjing hitam? Apa dalilnya sehingga Imam Ahmad berpendapat demikian? Jawabnya tiada lain adalah, hadits yang diklaim oleh Abu Salafy bahwa Imam Ahmad menolaknya. Ajaib, bagaimana bisa diklaim Imam Ahmad menolak hadits yang beliau tengah berhujjah dengannya?

Sanggahan Logika Sakit yang Sakit

Abu Salafy berkata:

“Adapun kesimpulan menggelikan yang mengatakan karena Ummul Mukminin Aisyah ra. menentangnya maka itu adalah bukti kuat bahwa hadis-hadis tersebut (Batalnya shalat disebabkan lewatnya wanita, anjing hitam dan keledai) ada pada jaman para shahabat, dan ia menjadi Syahid (bukti pendukung)nya

 

Ini adalah benar, mungkin kalau dinilai berdasarkan logika sakit, sebab bagaimana akal sehat kita menerima kesimpilan, ’Karena Aisyah menetang hadis itu, maka hadis itu adalah shahih, dan itu bukti bahwa sejak zaman sahahabt hadis itu sudah ada!” [Selesai kutipan.]

 

Saya katakan: Yang jelas apa yang dikutip oleh Abu Salafy berupa kesimpulan “menggelikan” tersebut sama sekali bukan berasal dari tulisan saya. Entah, dari mana datangnya pernyataan tersebut. Mungkin dimasukkan oleh Abu Salafy dalam sanggahannya terhadap tulisan saya, mengingat cukup terkait. Hanya saja, bagaimana pun juga, adalah benar untuk dikatakan bahwa hadits terputusnya shalat karena wanita (baligh), keledai dan anjing hitam sudah ada pada zaman Sahabat, dan bahkan diriwayatkan oleh Sahabat itu sendiri (tentu saja demikian, karena validitas transmisi yang sampai ke Sahabat) dan sebagian Sahabat pun berpegang dengan zahirnya. Karena itu, jika hadits itu dikatakan palsu, maka di mana letak kepalsuan dalam transmisinya? Jika dikatakan keliru, maka lantas bagaimana versi yang benar? Tentu hal tersebut harus dijawab, agar kita tidak memutuskan tanpa dasar ilmiah yang jelas. Namun, jika hadits tersebut valid—dan inilah yang benar—lantas bagaimana kompromisasi dengan riwayat Ibunda `Aisyah?

Dalam hal ini memungkinkan diterapkan prinsip al-mutsbit muqaddam `ala’n nafi, al-ladzi `alima hujjah `ala man lam ya`lam (yang menetapkan didahulukan daripada yang menafikan, yang mengetahui menjadi hujjah atas yang tidak mengetahui).

Saya rasa, untuk saat ini baiknya saya cukupkan tanggapan sampai di sini. Saya harap teman-teman lain di sini dapat membantu menyempurnakan. Banyak pembahasan yang masih saya tinggalkan, baik secara sengaja maupun tidak, di antaranya contoh hadits-hadits valid yang berseberangan dengan riwayat Ibunda `Aisyah, seperti hadits Hudzaifah yang menyebutkan bahwa Nabi ` pernah buang air kecil dalam keadaan berdiri (muttafaq `alaih) dan lain-lain.

Salam,
Abu Faris An-Nuri

About these ads

41 Komentar »

  1. Slamet said

    jazakallohu khoiron katsiron, Abu Faris An-Nuri

  2. yusup said

    teruskan diskusi, gunakan argumen disertai dalil2 yg kuat, tapi jangan saling mencela, jangan membenci, ingatlah perbedaan rahmat dari Allah klo kita mampu mengambil hikmahnya tapi klo tidak bisa jadi bencana bagi umat ini. syukron

  3. Muhammad said

    Assalamu’alaikum wr wb,
    Sebenarnya munculnya Abu Salafy tidak lepas dari sikap ulama dan pengikut salafy atau wahabi sendiri. Saya sarankan agar antum yg mengaku salafy hendaknya berdakwah dgn akhlaqul karimah! Jangan gampang membid’ahkan, memusyrikan dan mengkafirkan sesama muslim!. Bukankah alqur’an melarang kita mencaci maki sesembahan orang kafir, karena dikhawatirkan mereka akan juga mencaci-maki Allah swt dgn kata2 yg keji!. Itu adab kita terhadap orang kafir! Apalagi terhadap sesama muslim! Aturan Islam sangat sempurna dalam mengatur bagaimana sebaiknya sikap kita terhadap sesama muslim, maka gunakanlah wahai saudaraku! Jikan antum campakkan aturan yg sempurna ini, maka jangan salahkan abu salafy.
    Wassalamualaiku wr wb.

  4. Abu Jibrin said

    Muhammad berkata :
    “Jangan gampang membid’ahkan, memusyrikan dan mengkafirkan sesama muslim!. ”
    ——————————–

    Tolong bawakan bukti yg nyata !

    klo memang bid’ah, ya harus dikatakan bid’ah
    klo memang musyrik, ya harus dikatakan musyrik
    klo memang kafir, ya harus dikatakan kafir

    Salafiyiin selalu mengatakan sesuatu dg dalil dari Al-Qur’an & As-Sunnah yg Shahih dg Pemahaman Salafush Shalih

    Wallohua’lam.

    • Abu Aslam said

      Betullll sekali, mari perbaiki niat kita untuk melawan hujjah ahlul bid’ah dan ahlul kemusyrikan, semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda, Amin

  5. ابو شيخـة said

    nasehat ana buat kita semaunyaa……………..
    berfikirlh sebelum berbicara ……….

    قال الإمام أبو حاتم بن حبان البستي في كتابه روضة العقلاء ونزهة الفضلاء (ص:47): ” الواجب على العاقل أن يُنصف أذنيه من فيه، ويعلم أنه إنما جُعلت له أذنان وفم واحدٌ ليسمع أكثر مما يقول؛ لأنه إذا قال ربما ندم، وإن لم يقل لم يندم، وهو على رد ما لم يقل أقدر منه على رد ما قال، والكلمة إذا تكلم بها ملكته، وإن لم يتكلم بها ملكها “.
    Imam Abu Hatim bin Hibbaan Al Busty berkata dalam kitabnya Raudhatul ‘uqalaa’ halaman (47): ?Suatu hal yang wajib dilakukan oleh orang yang memiliki akal sehat bahwa ia lebih banyak mempergunakan telinganya dari pada mulutnya, untuk ia ketahui kenapa dijadikan untuknya dua buah telinga satu buah mulut, supaya ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara, karena apabila berbicara ia akan menyesalinya, tapi bila ia diam ia tidak akan menyesal, sebab menarik apa yang belum diucapkannya lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah diucapkannya, perkataan yang telah diucapkannya akan mengikutinya selalu, sedangkan perkataan yang belum diucapkannya ia mampu mengendalikannya.

    “، ونقل عن بعضهم أنه قال: ” لو كنتم تشترون الكاغد للحفظة لسكتم عن كثير من الكلام “.
    Dinukil dari sebagian ulama: jikalau seandainya kalian yang membelikan kertas untuk malaikat yang mencatat amalan, sesungguhnya kalian akan memilih lebih banyak diam dari pada banyak bicara.

  6. abuhurairah said

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabaarakatu

    ikhwan sekalian, jangan berdebat..kita masih belajar..yang penting pelajari aja kitab al qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para sahabat..tentunya dengan dalil-dalil yang shaheh…
    Buka hati kita masing-masing..jangan terkena rasa dengki, hawa nafsu…
    dan mari kita amalkan ilmu yang kita peroleh dan diaplikasikan di keluarga/masyarakat…sekitarnya..
    kalaupun ada pertentangan dimasyarakat..yach itulah realitanya..dan tidak akan mungkin bersatu antara yang bid’ah dan yang Sunnah…dan seorang salafy harus menghadapi ini semua..
    Untuk Abu Salafy…apakah antum pengasuh konsultasi agama di Era Muslim…? ataukah antum pernah belajar dengan syeik Maliki…?
    kalau memang kamu benar coba tunjukan jatidirimu…
    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabaarakatu

  7. Bukan akh,…. abu salafy mah penulis independen (sepengetahuan saya) dan tidak ada hubungannya dengan asatidzah di era muslim. Setidaknya melihat gaya tulisan dan motif penulisannya…….. Wallaahu a’lam

  8. Abu Hudzaifah said

    Alhamdulillah,
    ikhwah salafiyin umumnya telah mengetahui cara berda’wah yang sesuai dengan as-sunnah. Dan tidak mungkin bagi seseorang yang mengaku salafiyin membid’ahkan sesuatu jika perkara tersebut adalah sunnah.

    Adapun nasehat ana kepada diri ana sendiri dan seluruh kaum Muslimin, marilah kita bertaqwa kepada Allah Azza wa jalla dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an, As-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih.

    Untuk Abu Faris An-Nuri, pembahasan antum cukup ilmiah. dan AbuSalafy, kapan antum mau ruju’ pada kebenaran. Allahul musta’an Wallahul waliyut taufiq

    Abu Hudzaifah-Jakarta

    • kiki said

      siapa kah pencipta kitab tarikhhulapa wassalam

  9. abu olivia said

    assalamualaikum, mana artikel2 lain yg kusus untuk menjawai fitnah dari abu salafy? untuk abu hurairah, kenapa antum tanya abu hurairah dari ustad konsultasi era muslim? memang era muslim itu gak beres kah? selama ini ana liat bagus aja. afwan kalau ada kata ana yg salah, tapi skali lg ana pesan, janganlah emosi, benci ketika menghadapi fitnah, cacian dllnya sehingga kita kehilangan akal sehat. hadapi fitnah dgn tenang krena ini ujian. syukron

  10. wayang said

    sy tdk bnyk komentar krn sy lihat yg berkomentar disini orang berilmu semua. “kesempurnaan hanya milik ALLAH, kekurangan milik kita manusia”. Apakah kalian yg mengaku salafi sdh yakin kalian benar? silahkan tafsirkan jawaban anda dgn kata2 diatas. Insya Allah jika anda2 yg berilmu paham maka tdk ada pengakuan.

  11. M. Abdullah Habib said

    Saya senang andaikata antum mau berdiskusi sesama muslim dengan dengan beristidlal quran dan sunnah, tentu saja disertai rasa kasih sayang dan menyadari bahwa pemikiran orang tidak selalu sama.

    Suatu kesalahan besar kalau kita menganggap diri kita paling benar dan paling berhak untuk mentafsirkan agama

    Untuk ikhwah semuanya saya ucapkan selamat

  12. Dody Kurniawan said

    Assalamu’alaikum wr wb

    ada baiknya pembahasan masalah2 seperti ini dilakukan oleh para ahlinya, kalau bisa yang sudah memenuhi syarat sebagai ahli tarjih, faqih, sebagaimana yang telah ditetapkan sesuai standar dunia keislaman, karena itu titik temu antara setiap golongan dalam umat Islam…..
    dan kalau bisa dilakukan dalam forum terbuka tanpa melalui dunia maya yang tanpa bawa rujukan kitab asli…

    maaf bukan berarti merendahkan semua pembahasan para asatidz…
    dan kalau bisa sekali lagi dengan media yang sudah difasilitasi oleh pemerintah (kalau di Indonesia adalah MUI)….yang sebagai penengah lah, mediator, insyaAllah dari hasil pembahasan akan dihasilkan kesepakatan, dari kesepakatan itu MUI yang menetapkannya dan menegaskannya…
    setidaknya kita bisa menghargai mereka….itu saran ana yang risih melihat
    umat Islam lebih mendahulukan perpecahan daripada ukhuwah…
    mendakwahkan pemberantasan bid;ah memang wajib, tapi tentunya ada berbagai pertimbangan yang berangkat dari berbagai kaidah dan prinsip agama,…dan tentunya ada skala prioritasnya,,,.
    mencermati dakwah salafi dan pendapat2 mereka dan membandingkan dengan fatwa majelis tarjih muhammadiyah, keputusan LBM NU terasa ada sedikit perbedaan, karena terkadang fatwa majelis tarjih dan keputusan LBM NU lebih menekankan pada kaidah yang bukan bersifat saklek normatif tapi lebih menekankan kepada keputusan yang hati-hati berpegang kepada kaidah sa’adudz dzara’i dengan mempertimbangkan keadaan masyarakat…ini yang mungkin perlu direnungkan sebagai perbandingan bagi para salafiyyin….bahasa kiasannya, rangkullah umat secara pelan2 setelah mereka merapat dan kuat keimanannya, baru diberikan hukum yang jelas…

    ini adalah komentar dan saran dari saya muslim yang tidak sedikit ilmu dan masih harus banyak belajar, saya belajar dari syafi’iyah dan di salafi juga walau sekarang kurang begitu aktif, tapi insyaAllah masih banyak mempelajari pendapat salafi….
    sekian dari ana, mohon maaf bila ada salah kata…

    wallahul muwafiq ilaa aqwamitthoriq..
    wallahu a’lam
    wass wr wb

  13. M. Abdullah Habib said

    Dialog yang sehat tentu saja dengan cara santun dan mau mendengar pendapat orang yang tidak sefaham.

    Menurut sepengetahuan saya Wahhaby (atau apa saja nama yang mereka suka) selalu merasa paling benar dan menganggap orang lain salah. Lebih parah lagi kalau sampai menghalalkan harta (boleh dirampas) dan darah (boleh atau malah harus dibunuh) terhadap yang berseberangan dengan pendapatnya.

    Saya melihat buku2 wahhaby spt Ushul Tsalatsah, kasyfusy syubuhat dll penuh dengan tulisan yang seperti ini.

    Dan saya heran kepada mereka yang menganggap mengkritisi kesalahan Wahhaby dianggap sebagai penghinaan terhadap Ulama.

  14. halwa said

    Abu Jibrin berkata
    Tolong bawakan bukti yg nyata !

    klo memang bid’ah, ya harus dikatakan bid’ah
    klo memang musyrik, ya harus dikatakan musyrik
    klo memang kafir, ya harus dikatakan kafir

    Salafiyiin selalu mengatakan sesuatu dg dalil dari Al-Qur’an & As-Sunnah yg Shahih dg Pemahaman Salafush Shalih.

    Bidah menurut Ulama siapa nih, ulama sunni atau ulama wahabi.
    dan Musyrik menurut ulama siapa ?
    Kafir menurut Ulama siapa ?

    wong pengertian Bidah aja masih berbeda kok.

    satukan dulu pengertian bidah itu menurut ulama2, jangan mengambil perkataan ulama mazhab sendiri dong.

    salam,

  15. Abu Fadhlan said

    Katanya kalau orang ‘alim tidak akan mengatakan orang lain bodoh.

  16. M. Abdullah Habib said

    To Abu Jibrin

    Masalah bid’ah belum ada kesepakatan antara ulama dalam memberikan batasan. Ini merupakan garapan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu oleh para Ulama’ dan tentu saja masing-masing harus komit dengan batasan yang dia tawarkan.

    Selama ini saya melihat orang mudah mengatakan bid’ah, yang tentusaja mengarah pada tuduha ahli neraka terhadap yang bereda pendapatnya.

    Contoh kecil, Jamil Zenoo dalam Taujihatnya mengatakan ” Membaca Shodaqo Allahu al Adhim” setelah membaca al-quran adalah bid’ah. dalam buku “Madhorrotul Ibtida'” disebutkan, memakai topi juga bid’ah.

    Saya amat senang kalau ada Ulama yang mau mendiskusikan pengertian Bid’ah secara terbuka dan masing-masing berhak memberikan komentar. “Setiap orang berhak untuk diterima dan ditolak ucapannya kecuali Rosulullah SAW.” kata Imam Malik.

  17. yogi said

    Alhamdulillah, wa sholallahu `ala nabiyyina muhammad

    Yang sedang berdiskusi diatas sangat menarik, tapi apakah sudah ada keterangan yang jelas dari Rosulullah, dari shahabat atau fatwa ulama yang telah menyelesaikan perkara diatas. Afwan, Mungkin itu lebih yang lebih utama untuk diangkat. Sehingga tidak perlu membuang-buang energi dan waktu…

  18. rq said

    Sebenarnya sikap dari abu salafy adalah pengikangkaran terhadap sunnah yang shohih berdasarkan aqal yang kesemuanya insyaAllah DUSTA. Hal ini ada persamaan dengan orang2 JIL (jaringan islam liberal) yang memutarbalikkan perkataan ulama, dalil/hadits, al qur’an demi untuk menghancurkan islam dengan dalih pluralisme. Hal ini pernah di ungkapkan oleh salah seorang pentolannya anggap saja namanya FULAN untuk mendapatkan DOLLAR ia mesti memutar balikkan perkataan IBNU Taimiyah. Bahkan sekarang aja mereka menjadi back up aliran sesat di Indonesia seperti Ahmadiyah, syi’ah dll. Fakta berbicara , insyaAllah tgl 17 Januari 2009 akan di adakan upacara Karbala di Cirebon yang di dukung oleh orang2 JIL. Jadi Abu Salafy bak kebakaran MUKA hingga gosong gara gara di tahdzir MUI SESAT..dan mencari sela sela untuk menghancurkan ISLAM tapi ga bisa…hehehehe..kacian dech loe

  19. rq said

    to M. Abdullah Habib
    Imam Malik adalah salah seorang dari ulama salaf. Mengapa antum mengambil perkataan dari beliau padahal antum benci dengan salaf?
    Jadi salah antum tidak mengambil dari mereka RadhiAllahu’anhum/salafussoleh. Dan kenyataannya antum salah karena ketidaktauan antum terhadap salaf . Dan sekarang antum ngikut siapa?
    Abdullah bin Saba’ ya ato khowarij ato mu’tazillah ato sufi ato…….
    kesimpulannya mari qta belajar ‘ilmu termasuk kitab al-muwatho’-nya Imam Malik.

  20. Hanif.euy said

    Mari kita saling nasihat menasihati dengan cara yg benar dan sabar, jika ada keraguan mari ditegaskan. Akankah terjadi perang antara sesama muslim…
    Nauzubillah,. jangan sampai terjadi..
    Wallahualam bishaawab..

  21. Saya orang yang kurang mengerti dengan manhaj salaf,sekarang berusaha untuk mempelajarinya,saya ingin meminta penjelasan Apakah benar kita tidak boleh memberontak atau menentang pemerintah sekalipun dia itu dzalim,sekuler,liberal atau bekerjasama dengan negara asing,atau seorang perempuan,dan juga mengenai paham salafy yang enggan berurusan dng dunia politik,bukan kah salafy menginginkan kondisi pada masa tiga generasi terdahulu bisa diterapkan pada saat ini,menurut saya yg awam,apakah mungkin kita menjadikan Alquran dan assunnah sebagai landasan hidup umat muslim dimanapun berada tanpa menyertakan idologi negara yg sesuai pada masa tiga generasi pertama,bukankah pemerintahan pd masa itu sangat berlandaskan pd hukum islam.jd bagaimana mungkin bila kita tdk mau menciptakan pemerintahan yg sama pada saat ini.Sy mohon penjelasan yang sebenarnya dari siapa saja yg berkenan untuk memberikan pemahaman kepada sy yg awam,tdk ada niat lain dr sy kecuali ingin lbh memahami apa itu salafy.

  22. yopi said

    kalau mendengar perkataan yang tidak ada sumbernya, jiwa ini terasa sempit…..kalau mendengar perkataan yang bersumber dalil jiwa ini terasa lapang…..terima kasih ustadz Abu Faris An-nuri……atas penjelasannya…..buat Abu Salafy, saya lihat tulisan anda tentang perpecahan wahabi…..sepertinya anda senang sekali dengan perpecahan, khususnya diantara kaum muslimin…..tapi anda salah…….hati kaum muslimin itu satu, apalagi kalau hati mereka berpegang kepada Al-Qur’an dan As-sunnah, maka tidak ada satupun yang dapat menhasut, memecah belah, dan menyesatkan mereka….sebaiknya saran saya anda menulis saja artikel2 yang bermanfaat buat kita semua….tapi dengan sumber yang jelas ya……bukan tulisan berupa fitnahan, sinis, dan tidak mendasar……

  23. fakher omar said

    Slm elaykom….
    Faktor terbesar dari kecerobohan (cepat membid’ahkan / mengkafirkan ) ialah dikarenakan kurangnya ilmu…..
    maklum……seseorang yang baru mengenal kebenaran maka dia akan merasa begitu bersemangat…..
    namun….
    semangat yang didasari tanpa ilmu akan lebih banyak merusak dari pada memperbaiki…..
    semoga bermanfaat Akhukum Fillah ..
    Fakher Omar

  24. fakher omar said

    Slm elaykom
    Maksud dari kita tidak boleh memberontak ialah didasarkan pada kaedah syari': mashalih dan mafasid artinya yaitu bukan berarti tidak dibolehkan secara mutlak akan tetapi boleh bagi kita untuk memberontak apabila telah terpenenuhi syarat2nya….adapun untuk syarat-syaratnya …..maaf untuk saat ini belum hadir di memori saya….jadi ya….insyaAllah dilain kesempatan apabilah dah inget wallahu’alam
    Akhukum Fillah
    Fakher Omar

  25. laila said

    walah2 kayakñ harus konfirmasi ke laila nih…???
    bnyak yg ngaku2 kenal laila tapi sayang laila ga kenal tuh… waduh kacian bener.
    ada juga yg malu2 kucing, bilangñ benci ma laila tapi ketangkap basah saat ngintip2 rumah laila dimusim hujan, waah malu dong.
    ada lagi yg lebih parah sumpah2 pake nama Alloh kalo dia sangat benci sama laila+ njelek2in lagi laila., eeeh ga tauñ malah nglamar laila,- ditolak stress ngaku sbg bpkñ laila deh.. melase

  26. toto said

    mari yuk kita sama2 saudara muslim saling ukhuwah islamiah,kerjasama entaskan kemiskinan, banyak pemurtadan dimana2 mas, masalah bid’ah dan sunnah jangan dipeributkan para ulama yang hafiz ratusan ribu hadist yang pantas memperdebatkannya..yuk kita saling senyum saling tebar salam,sambung tali silaturahmi

  27. abu maryam said

    Pujian Untuk Wahaby
    Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai Quran & Sunnah dengan faham Salaful Ummah… Akupun dipanggil Wahabi
    Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah, tidak kepada Nabi ataupun Wali… Akupun dituduh Wahabi
    Ketika aku meyakini Alquran itu kalam Ilahi, bukan makhluq… Akupun diklaim Wahabi
    Ketika aku takut mengkafirkan dan memberontak penguasa yang dzalim… Akupun dapat platform Wahabi
    Ketika aku tidak lagi shalat, ngaji serta ngais berkah di makam keramat… Akupun dijuluki Wahabi
    Ketika aku putuskan keluar dari tarekat sufi yang berani menjaminku masuk surga… Akupun diembel-embeli Wahabi
    Ketika aku katakan tahlilan dilarang oleh Imam Syafi’i… Akupun dihujat sebagai Wahabi
    Ketika aku tinggalkan maulidan karena Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak pernah ajarkan… Akupun dikirimi “berkat” Wahabi
    Ketika aku takut mengatakan bahwa Allah itu dimana-mana, sampai ditubuh babipun ada… Akupun distempeli Wahabi
    Ketika aku mengikuti Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: memanjangkan jenggot, memotong celana diatas dua mata kaki, .., .., Akupun dilontari kecaman Wahabi
    Ketika aku tanya apa itu Wahabi..?
    Merekapun gelengkan kepala tanda tak ngerti
    Ketika ku tanya siapa itu wahabi..?
    Merekapun tidak tahu dengan apa harus menimpali

    Tapi..!
    Apabila Wahabi mengajakku beribadah sesuai dengan Quran & Sunnah… Maka aku rela mendapat gelar Wahabi!
    Apabila Wahabi mengajakku hanya menyembah dan memohon kepada Allah… Maka aku Pe–De memakai mahkota Wahabi!
    Apabila Wahabi menuntunku menjauhi syirik, khurafat dan bid’ah… Maka aku bangga menyandang baju kebesaran Wahabi!
    Apabila Wahabi mengajakku taat kepada Allah ta’ala dan RasulNya -shollallohu alaihi wasallam-… Maka akulah pahlawan Wahabi!
    Ada yang bilang… Kalau pengikut setia Muhammad-shollallohu alaihi wasallam- digelari Wahabi… maka aku rela menjadi Wahabi.
    Ada juga yang bilang… Jangan sedih wahai “Pejuang Tauhid”, sebenarnya musuhmu itu sedang memujimu…

    Pujian dalam hujatan…
    ( Oleh Ustadz Abu Abdillah Addarini Lc)

  28. afifi abu wafa said

    ana apresiatif dengan ABU FARIS dlm ber munadhoroh sangat sopan…dan tdk demikian dg abu salafi

  29. Ibnu Abi Irfan said

    Ini adalah pengalaman pribadi ana yang berupa fakta. ana pernah berdiskusi seperti ini dengan orang2 NU di dunia maya. Pernah ana sampai dituduh mengkafirkan orang yang tidak sependapat dengan ana.

    Maha Suci Alloh, ini adalah tuduhan dusta. Kepada Alloh aku serahkan penghakimannya.

  30. Najih said

    Ana setuju dgn @rq,ana mikir si abu salafy ini org jil,alias jaringan iblis la’natullah atau jg orang syi’ah rafidhah dr kalangan ‘alawiyyin,sampe heran2,tk hbs fikir dgn org ini,ulama ahlul hadits”diserang”habis2an seolah2 dirinya imamul jarh wa ta’dil!Subhaanallah!Dr siapa dia mengambil agama dia itu?Suatu saat ALLAH YG ADA DI ATAS LANGIT BERISTIWA’ DI ‘ARSY NYA,akan membongkar makarnya,dan akan dibuka siapa dia sebenarnya.

  31. hasan said

    abu salafy ini ilmunya sedikit juga ficik,jadinya menfitnah, akhirnya menyesatkan ummat

  32. anang dwicahyo said

    Inilah perjuangan dakwah yang sesungguhnya .

    Tidaklah perlu di komentari panjang lebar situs/blog yang tidak suka kepada dakwah ini , nggak ada pengaruhnya sama sekali , insya Allah .

    Ana pernah masuk ke alamat tersebut dan ternyata sangat jauh dari di bilang cukup pantas untuk di komentari .
    Isinya hanya hujatan yang kotor menjijikkan , namun dibalik itu , ana bersyukur dengan bloq tersebut.

    Ana memohon kepada Allah , semoga siapapun yang membaca blog itu diberi hidayah dengan dibukanya pemikiran sehatnya dan dapat mengambil hikmah jeleknya turur kata yang ada di blog tersebut dan istiqomah di jalan yang lurus .

  33. machiavelli said

    kata IBnu Taimiyah, ALlah ada di atas langit, dan ALlah berada dimanapun kalian berada…

    jadi kalimat Allah ada di atas langit itu belum selesai, karena masih ada lanjutannya…

    sumber : majmu fatawa, aqidah washithiyah…

  34. eza said

    telah bnyak prmintaan dr rekan2 muslimin yg msh mmpertanyakan mslah bid’ah,maulid,tahlil,ziarah kubur,tabaruk dll.sungguh tlh keruh berjuta sanubari sbb klimat pndek ini.trptus jutaan hbngan silaturahmi bahkan prmusuhan dan perpecahan yg sering brakhir dgn pertumpahan darah saudara2ku yg kumuliakan sungguh saya sgt risau melihat keadaan muslimin yg smakin jauh dr kebenaran,pdhal mslh ini singkat dan jelas,tak perlu lg dipertanyakan dan dipermasalahkan.

  35. Kenapa kok kita harus saling membenci-padahal saling mencintai adalah lebih utama , cobalah kita belajar saling menyayangi , tentu tidak akan melarat. wassalam.

  36. Assalamu ‘Alaikum..
    Saya bisa menyampaikan kpd Abu Salafy, 1 ayat. Allah azza wajalla brfirman:
    “Maka (Dzat yg demikian) itulah Allah, Rabb kamu yg sebenarnya. Maka tdk ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?
    [QS. Yunus: 32]

  37. han bi kwang said

    hati-hati…
    lebih baik merasa masih banyak kesalahan, karena dngan itu kita terpacu untuk belajar dan belajar. daripada merasa paling benar karena hanya akan memicu kita untuk menyalahkan dan menyalahkan
    semoga kita diberi semangat untuk belajar sehingga kita akan selalu brusaha utk lbih benar dan lebih benar lagi

  38. ashcoft said

    Semoga Allah SWT memaafkan kita semua dan memaafkan pendukung salafy/wahabi karena ketidaktahuan dan kekeliruannya dikarenakan pernah melakukan rukun islam. Mungkin niatnya benar tapi jalan dan caranya yang salah.
    Amin

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: