Arsip untuk Oktober, 2007

Menjawab Nashrani : Isa bin Maryam

Penulis : Muhammad Fu’ady

Bismillahi Rahmaanir Rahiim

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin, Wash Sholaatu Was Salaamu ‘Ala khayri
Khalqillahi Ajma’iin, Wa’ala Aalihi Wa Shohbihi wat Tabi’iin.

Banyak sekali syubhat yang dilontarkan oleh kaum kuffar mengenai kedudukan ‘Isa dalam agama islam, sebagian mereka mengambil ayat-ayat yang mutasyaabih lalu memutar balikkan makna sehingga tersamar oleh banyak orang kecuali yang Allah kehendaki kebaikan.

Diantara syubhat yang paling besar adalah perkataan mereka bahwa Allah menyebut ‘Isa sebagai Ruuh Minhu yakni -menurut mereka- ruh dari bagian Ruuh Allah.

Allah juga menyebutkan bahwa ‘Isa itu adalah Kalimat Allah, bukan Makhluq Allah. Berikut ini adalah penjelasan mengenai ayat-ayat
mengenai ‘Isa bin Maryam ‘Alaihi Sholaatu Was Salaam yang kami ambil dari Tafsiir Adhwaaul Bayaan yang dikarang oleh Syaikh “Muhammad al Amiin bin Muhammad Bin Mukhtar bin ‘Abdul Qoodir bin Muhammad Bin Ahmad Bin Nuuh bin Muhammad Bin Sayyidi bin Ahmad Bin Mukhtar” Rahimahullah wa fasaha qabruhu wa rafa’a darajaatuh Amiin.

Allah Berfirman :

“wa kalimatuhu Alqaaha ila Maryama Wa ruuhun Minhu”

Lafazh “Min” pada ayat ini tidak berarti ’sebagian’ seperti yang disangka oleh Nashrani yang berdusta atas nama Allah, Akan tetapi “min” pada ayat ini berarti permulaan sebuah tujuan[*], sehingga artinya adalah permulaan ruh itu yang kemudian terlahirlah ‘Isa berasal dari Allah ta’ala, karena Ialah yang menghidupkan ‘Isa dengan ruh itu.

Adapun dalil lain yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “min” pada ayat ini adalah “permulaan sebuah tujuan” adalah firman Allah ta’ala
“Wa Sakhkharna Lakum ma fis Samaawaati wa Maa Fil Ardhi Jamii’an Minhu”
Baca entri selengkapnya »

Komentar (1)

Tentang lafadz “manusia adalah khalifatullah di bumi”

Penulis : Abu Shalih

Allah tabaraka wata’ala berfirman dalam kitab-Nya :
وإذ قال ربك للملاءكة إني جاعل في الأرض خليفة
(Al Baqoroh, 31)

Sering kita mendengarkan orang mengucapkan suatu lafadz
“sesungguhnya manusia adalah khalifah Allah di muka bumi” dengan berdasar ayat ini,
Atau pengartian khalifah dengan “penguasa”

Bagaimanakah hukumnya pengucapan lafadz yang pertama di atas (manusia adalah khalifah Allah di bumi) ?
Penjelasan tambahan dan tafshil (pemerincian) pendapat ulama dalam permasalahan ini dapat dilihat dalam kitab Syaikh Abu Bakr Abu Zaid-rahimahullah, Almanaahi Allafdziyah .

Di dalam hal ini ada tiga pendapat ulama:

Pertama, Memperbolehkan. Seseorang diperbolehkan mengucapkan “manusia adalah khalifatullah di bumi” mereka berhujah dengan hadits alkumayl dari ‘Ali :
(( أُولئك خلفاء الله في أرضه ))

Mereka adalah khalifah Allah di buminya, demikian pula dengan ayat :

{ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً }

Dan yang semisalnya di dalam Al Quran.

Dan dengan sabda nabi sallallahu ‘alaihi wasallam :

(Sesungguhnya Allah menguatkan kalian di bumi, dan menjadikan kalian khalifah di dalamnya dan ia melihat bagaimana kalian dalam beramal, bertaqwalah dari dunia dan wanita).

Dan dengan hadits Al Mahdi, yang di dalamnnya :
(( خليفة الله المهدي ))
Namun ia dhaif sebagaimana di dalam silsilah addho’ifah no 85.
Baca entri selengkapnya »

Komentar (1)