Arsip untuk September, 2007

Fatwa Imam Ibnu Utsaimin : Hukum Nasehat atau Ceramah Taraweh

Assalamualaikum warahmatullah

Sumber : Kaset Liqo Bab Al-Maftuh No.118

Bisa di download di website beliau http://www.ibnothaimeen.com/cgi-bin/art-sound/exec/search.cgi?cat=226&start=201&perpage=200&template=index/Sound.html

Transkripnya bisa didapat dibeberapa tempat, semisal disini http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=111774

Pertanyaan : Apa hukum ceramah berupa nasehat yang disampaikan diantara roka’at sholat taraweh atau ditengah-tengahnya yang dilakukan setiap malam

Asy-Syaikh Utsaimin menjawab : Tidak mengapa apabila (seorang imam) berdiri untuk dua rokaat selanjutnya ,kemudian melihat shof-shof menjadi tidak lurus.Atau orang -orang yang sholat saling berpencar sehingga menjadikan adanya sela dan celah diantara mereka,kemudian mengatakan “luruskan dan rapatkan (shof)” .Maka seperti ini tidak ada masalah.

Adapun berupa ceramah nasehat (diantara sholat teraweh,pent), maka jangan.Karena ini bukanlah petunjuk salaf.Akan tetapi, nasehat bisa disampaikan jika disana ada hajat.Atau boleh saja terserah namun selepas selesai sholat taraweh.Apabila diniatkan ta’abbud maka jatuh kepada bid’ah.Dan tanda hal tersebut dilakukan dengan niat ta’abbud adalah dengan mendawamkannya setiap malam.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (3)

Sepercik Pelajaran dari Mudik Lebaran

Pada umumnya orang Indonesia rutin pulang ke kampung halaman menjelang ‘Idul Fithri atau Lebaran. Tak peduli betapapun kesulitan dan kesukaran yang dihadapi untuk itu. Berdesak-desakan di kereta, berjubel di bis, kemacetan panjang di perjalanan, sampai menempuh ratusan kilo berbekal sepeda motor dengan risiko kehujanan dan kepanasan, dan hal-hal lain yang tak kalah hebatnya. Semua itu dilakukan dalam rangka merayakan Lebaran di kampung halaman sekaligus untuk ajang silaturrahim terdahsyat dalam setahun bersama sanak keluarga. Seluruh jerih payah itu dilakukan demi terealisirnya satu kata: “pulang”.

Pulang, adalah hal yang dinanti sekaligus merupakan salah satu obat kebahagiaan. Pulang adalah tujuan. Lama tidak pulang dan berada di luar tempat tinggal menimbulkan keresahan dan kegundahan. Contoh sederhana, jika kita berada di kantor beberapa jam lebih lama dibanding biasanya maka kita akan resah dan keinginan untuk pulang menjadi sangat kuat. Betapapun indahnya perjalanan wisata yang kita lakukan, ujung-ujungnya pun kita ingin pulang.

Ada satu temuan menarik yang cukup relevan dengan pembahasan kali ini. Ternyata bayi lebih merasa nyaman jika digendong oleh ibunya pada sisi kiri. Mengapa? Karena detak jantung ibu lebih tertangkap oleh bayi. Detak jantung yang sama yang dulu bayi itu dengarkan sewaktu berada dalam kandungan ibu. Bayi tersebut seakan-akan merasa pulang ke tempat awalnya.

Singkatnya, pada prinsipnya, kita senantiasa rindu untuk pulang ke asal muasal kita. Karena itulah kita sering kangen kepada orang tua, kita rindu kepada kampung halaman, dan lain sebagainya.
Baca entri selengkapnya »

Komentar (8)

Teori/Fakta Ilmiah Vs Ucapan Ulama Salaf ?

Menyambung kembali diskusi yang sempat berlangsung dalam milis tentang apakah bumi mengitari matahari ataukah sebaliknya? Atau mungkin dikatakan secara umum, bagaimana sekiranya terdapat teori/fakta ilmiah yang bertentangan dengan pendapat ulama Salaf dalam memahami zhahir nash al-Qur`ān dan hadits?

Terkait dengan masalah apakah bumi mengitari ataukah sebaliknya, maka saya mendapat informasi dari seorang teman yang dapat dipercaya, bahwa Syaikh ‘Ali Hasan pernah ditanya tentang hal ini, namun beliau tidak memberikan jawaban. Padahal, tentu tidak samar bagi beliau nukilan dan ucapan ulama dalam hal ini. Karena itu, tentu dikarenakan sebab tertentu sehingga beliau tidak menjawab pertanyaan tersebut. WaLlāhu a’lam.

Kali ini saya tidak mengemukakan pendapat pribadi saya tentang mana yang benar antara bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya, mengingat sampai saat ini data yang sampai kepada saya dan yang telah saya baca belum memadai, sehingga saya belum berkompeten untuk membahas hal tersebut.

Namun pada kesempatan ini saya hanya ingin menyampaikan bahwa untuk membahas permasalahan semisal ini, yaitu apabila tampaknya terjadi kontradiksi antara fakta ilmiah dan ucapan ulama Salaf, penting kiranya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Baca entri selengkapnya »

Komentar (25)

Kelaziman (Iltizām) Membuka Khuthbah Jum’at dan Tulisan dengan Khuthbatul Hājah?

Penulis : Abu Faris An-Nuri

Sering kali kita dapati ustadz atau penulis yang senantiasa membuka khuthbah, ta’līm dan tulisan ilmiah mereka dengan Khuthbatul Hājah yang tercantum dalam hadits Ibn Mas’ūd, yaitu: innal hamda liLlāh nahmaduhu wa nasta’īnuhu wa nastaghfiruh… (sesungguhnya segala puji adalah milik Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya…).

Hal tersebut populer setelah al-’Allāmah Muhammad Nashiruddīn al-Albāni—rahimahuLlāh—menulis risalah yang berjudul Khuthbatul Hājah. Pada risalah tersebut Syaikh menegaskan signifikansi untuk memulai khuthbah, tulisan dan yang semisalnya dengan Khuthbatul Hājah. Beliau juga menyebutkan bahwa hal ini termasuk sunnah yang telah ditinggalkan oleh banyak orang (sunan mahjūrah). Dan dapat disimpulkan dari risalah tersebut bahwa disunnahkan untuk senantiasa (iltizām) membuka segala bentuk khuthbah, tulisan dan yang semisalnya dengan Khuthbatul Hājah tersebut.

Saya pribadi sudah lama menerjemahkan risalah dimaksud atas permintaan salah satu penerbit, namun qaddaruLlāh sampai saat ini belum diterbitkan.

Hanya saja, pada kalangan sebagian (kecil) orang seolah-olah kemudian timbul pandangan yang sedikit “miring” terhadap orang yang berbicara atau menulis yang melakukan pembukaan dengan selain Khuthbatul Hājah dimaksud, bahwa mereka tidak “nyunnah” dan semisalnya. Bahkan, terkadang bisa jadi hal tersebut dijadikan sebagai salah satu parameter atau penanda untuk menilai manhaj yang bersangkutan dalam beragama. Menurut saya, hal ini adalah bukanlah sikap yang tepat
Baca entri selengkapnya »

Komentar (7)