Penulis : Abu Faris An-Nuri
Assalamu’alaikum wr. wb.
Berikut ini apa yang pernah, bahkan sering, saya share kepada teman2 sekaligus para guru saya, rencana awalnya sih mo disusun dalam bentuk buku ^_^ syukur-syukur ada yg mau nerbitin, gambaran kumpulan idenya udah ada di kepala (baru di kepala doang). Tapi mengingat realisasi hal tersebut mungkin masih sangat jauh sekalee, saya coba share di sini beberapa hal yang saya anggap penting dalam hal ini. Mudah2an dengan mulai menuliskan hal yang singkat, saya akan dapat mengembangkannya untuk ke depan.
DAKWAH SALAFIYYAH ADALAH DAKWAH PENUH KASIH (RAHMAT)
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala sayyidina wa nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’d:
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya): “Dan tidaklah kami mengutus kamu (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat (kasih) bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya`: 107)
Cobat perhatikan siyaq ayat tersebut, eksistensi Nabi SAW bukan hanya sbg rahmat bagi kaum muslimin saja, namun sebagai rahmat bagi seluruh manusia, bahkan seluruh alam semesta, termasuk musuh sekalipun. Karena itu, ajaran beliau adalah ajaran kasih. Din al-Islam adalah rahmat. Hal ini tidak mungkin dipungkiri seorang muslim.
Ahlus Sunnah sebagai pembawa dan penerus terbaik ajaran Nabi SAW sudah seharusnya memiliki sifat tersebut, sifat merahmati (mengasihi) dan menyebarkan rahmat (kasih). Ahlus Sunnah, adalah sebagaimana disifati oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam ucapan emasnya, “a’lamu bil haqq wa arhamu bil khalq (paling mengetahui al-haqq dan paling kasih terhadap makhluk)” (Minhaj as-Sunnah, vol. V, hal. 158).
Lantas, bagaimana dengan wajah dakwah Dakwah Salafiyyah, yang (seharusnya) merupakan sinonim dari Dakwah Ahlus Sunnah, saat ini? Ternyata, tidak dapat dipungkiri telah terbentuk stigma dan opini publik yang negatif pada banyak kaum muslimin bahwa dakwah tersebut tidak humanis, kaku, berperangai keras, mudah menghujat, dan seterusnya.
Baca entri selengkapnya »