Arsip untuk Mei, 2007

Dakwah Salafiyah adalah Dakwah Penuh Kasih (Rahmat)

Penulis : Abu Faris An-Nuri

Assalamu’alaikum wr. wb.

Berikut ini apa yang pernah, bahkan sering, saya share kepada teman2 sekaligus para guru saya, rencana awalnya sih mo disusun dalam bentuk buku ^_^ syukur-syukur ada yg mau nerbitin, gambaran kumpulan idenya udah ada di kepala (baru di kepala doang). Tapi mengingat realisasi hal tersebut mungkin masih sangat jauh sekalee, saya coba share di sini beberapa hal yang saya anggap penting dalam hal ini. Mudah2an dengan mulai menuliskan hal yang singkat, saya akan dapat mengembangkannya untuk ke depan.

DAKWAH SALAFIYYAH ADALAH DAKWAH PENUH KASIH (RAHMAT)

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala sayyidina wa nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’d:

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya): “Dan tidaklah kami mengutus kamu (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat (kasih) bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya`: 107)

Cobat perhatikan siyaq ayat tersebut, eksistensi Nabi SAW bukan hanya sbg rahmat bagi kaum muslimin saja, namun sebagai rahmat bagi seluruh manusia, bahkan seluruh alam semesta, termasuk musuh sekalipun. Karena itu, ajaran beliau adalah ajaran kasih. Din al-Islam adalah rahmat. Hal ini tidak mungkin dipungkiri seorang muslim.

Ahlus Sunnah sebagai pembawa dan penerus terbaik ajaran Nabi SAW sudah seharusnya memiliki sifat tersebut, sifat merahmati (mengasihi) dan menyebarkan rahmat (kasih). Ahlus Sunnah, adalah sebagaimana disifati oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam ucapan emasnya, “a’lamu bil haqq wa arhamu bil khalq (paling mengetahui al-haqq dan paling kasih terhadap makhluk)” (Minhaj as-Sunnah, vol. V, hal. 158).

Lantas, bagaimana dengan wajah dakwah Dakwah Salafiyyah, yang (seharusnya) merupakan sinonim dari Dakwah Ahlus Sunnah, saat ini? Ternyata, tidak dapat dipungkiri telah terbentuk stigma dan opini publik yang negatif pada banyak kaum muslimin bahwa dakwah tersebut tidak humanis, kaku, berperangai keras, mudah menghujat, dan seterusnya.
Baca entri selengkapnya »

Komentar (8)

Perihal Menyingkat Kalimat Salam (3)

Pertama,
Ada orang yang mengatakan bahwa salafy itu lebih suka mengikuti kesimpulan/pendapat syaikhnya daripada menelurusi dan mengurai dalil yang melatar belakangi kesimpulan tersebut.

Bahasa ‘gaul’nya barangkali taqlid yah.. :p

Kita tentunya harus membuktikan bahwa ucapan orang ini salah dan keliru berat, paling tidak kita harus menunjukkan bahwa ucapan beliau ini tidak berlaku bagi warga milis SalafyITB yang belakangan lagi hangat juga dengan topic ‘salafy sejati’ terrutama di blog SalafyITB :p

Nah satu diantara bentuk pembuktiannya adalah kita bisa menunjukkan dalil akan apa yang kita amalkan, termasuk diantaranya masalah sholawat. Kita tunda sejenak masalah singkat menyingkat redaksi sholawat, kita tunjukkan saja dahulu sholawat yang baku itu seperti apa… Sebelum mengupas singkatan SAW kita tunjukkan saja dulu mana dalil bahwa sholawat itu adalah dengan membaca “shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Dari mana ini dasarnya? Bukankah shalawat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seperti bacaan kita dalam tasyahhud? Apakah kita mengucapkan itu karena para ulama juga mengucapkannya? Apakah kita pernah bertanya dan mencari tahu kenapa begitu bukan begini dan kenapa begini bukan begitu? Bukankah redaksi “shallallahu ‘alaihi wa sallam” sendiri merupakan bentuk ikhtishar/penyingkatan dari sholawat yang lengkap yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung dari lisannya? Kalau kita menjawab karena para ulama melakukannya, maka sudah barang tentu ucapan saudara kita di atas adalah benar adanya, hmmm… ndak mau kan?

Salah satu dalil atau argument mengapa kita bershalawat dengan ucapan shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istinbath dari ayat Allah di surah Al-Ahzab 56:
صلُّوا عليهِ وسلِّموا تسْليماً

Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa sholawat yang dibaca adalah seperti yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan dalam sholat, namun boleh diringkas dengan shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai istinbath dari ayat tersebut.

Ada yang bisa bantu menunjukkan dalil yang lain?
Baca entri selengkapnya »

Komentar (6)