Penulis : Abu Ishaq As-Sundawy
Bismillah Alhamdulillah washshalaatu wassalaamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa man waalah
Saudara sekalian, hangat sekali tampaknya diskusi mengenai masalah penyingkatan penulisan salam atau sholawat ini. Pak Ustadz Abu Faris, jazakallah khair atas ifadahnya, rupanya memang harus ada ta’qib agar ifadah dari antum bisa terus mengalir:p. Saudara-saudara, silakan jangan sungkan untuk bertanya ataupun menyanggah, insya Allah semua warga milis ini tidak kikir untuk berbagi, hanya masalah stimulus saja barangkali, ada yang tanpa diminta dia langsung berbagi, ada juga yang barangkali harus ‘diserang’ terlebih dahulu baru mau berbagi :p. ‘Ala kulli haal, nuansa diskusi atau bahts ilmiyyah jangan sampai luntur di milis ini, tentunya dengan tetap memperhatikan adab dan kesejukan dalam indahnya persaudaraan. (jadi ingat slogannya seorang tokoh euy..:p)
Membaca apa yang ditulis oleh Al-Akh Al-Ustadz Abu Faris berkenaan masalah menyingkat salam atau sholawat dalam penulisannya serta komentar Al-Akh Abu Al-Jauzaa dan Al-Akh Abu Shalih di blog SalafyITB, perkenankan saya ikut berkometar. Tidak ada yang baru dari saya, hanya pengulangan dan barangkali tidak lebih dari sekedar ghutsa’ dalam nuansa ta’yid kepada pendapat Pak Abu Faris karena memang ‘kebetulan’ saya satu barisan dengan beliau dalam hal ini:p
Pertama,
Fi hududi ‘ilm (pinjam istilahnya Pak Abu Faris:p), memang telah terjadi polemik dalam masalah ini. Sebagian ulama berpendapat tidak masyru’nya (baca: makruh) menyingkat sholawat dalam penulisan sementara yang lain memandang tidak ada masalah dalam penyingkatan tersebut selama maksud atau tujuannya bisa tercapai, yaitu diucapkannya sholawat.
Namun jauh sebelum itu, sejatinya pengucapan sholawat ketika nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut pun masih dijadikan tanda tanya apakah diucapkan setiap kali disebut atau bagaimana? Apakah para shahabat ketika berbicara atau memanggil Nabi, Ya Rasulullah, serta merta mereka mengucapkan shallalahu ‘alaika? Apakah pengucapan shalawat merupakan bentuk kecintaan sejati kepada Nabi sementara ucapan dan perbuatan kita menyelisihi beliau? Bukankan jika kita ittiba’ sepenuh hati dan rasa dalam setiap ucap dan laku dan tidak bersholawat kecuali ketika sholat saja maka kita tetap dikatakan salafi? Silakan simak dengan seksama hal ini dengan segenap faidah yang terkandung dalam pembahasan Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki dalam bukunya ‘Aridhatul Ahwadzi bi Syarhi Shahih At-Tirmidzi (bisa didownload di http://www.waqfeya.com/open.php?cat=33&book=744)
Baca entri selengkapnya »