Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Mungkin pembaca ada yang penasaran dengan tulisan Al-Ustadz Abul Baro Al-Kinani yang disinggung oleh Abu Ishaq.Silahkan untuk melihat kepada link yang telah ditunjukkan.Ini adalah sisi permasalahan fiqhiyyah yang wajar kita berbeda pendapat selama masih dalam koridor yang dibenarkan.Dan tidak dimasudkan berulas panjang saling menyanggah.Karena Al-Akh Abu Salma pun sudah tahu dan merujuknya dalam referensi tulisan beliau.Hanya saja mungkin belum diangkat oleh beliau.
Untuk mengobati rasa penasaran, saya coba bawakan satu point permasalahan yang diulas penulis dari sekian bahasan yang ada.Yakni mengenai pemahaman Abdullah bin Busr radhialahu ‘anhu terhadap hadist yang diriwayatkannya tentang larangan puasa hari sabtu.Sebenarnya sudah saya lempar di milis, akan tetapi masih dalam bahasa arab.Mudahan-mudahan yang sedikit ini bisa bermanfaat dan tertarik untuk membaca artikel utuhnya.
Sebagai pembanding, saya kutipkan tulisan Al-Ustadz Abu Salma :
Sebagai tambahan pula, bisa dikatakan bahwa salaf kita di dalam masalah ini adalah para sahabat yang meriwayatkan hadits ini. Karena tidaklah mungkin para sahabat –yang telah jelas akan keshahihan sanadnya- ketika meriwayatkan sebuah hadits, mereka tidak mengamalkan hadits tersebut. Karena apabila tidak maka ini tentu saja merupakan celaan. Para sahabat yang menjadi salaf kita dalam masalah ini adalah ‘Abdullah bin Busr, saudari beliau Shamma’ binti Busr, dan bapak keduanya Busr bin Abu Busr al-Mazini serta Abu ‘Umamah al-Bahili Shuday bin ‘Ajlan radhiyallahu ‘anhum.
Lebih kuatnya lagi, adalah sebuah riwayat berikut : Diriwayatkan oleh Nasa’i di dalam al-Kubro (55/a/12) sebagaimana di dalam Tuhfatul Asyraf (IV/294-no.5195) dari Ahmad bin Ibrahim bin Muhammad [beliau adalah Abu ‘Abdil Malik al-Qurosyi al-Busri] dari Ishaq bin Ibrahim [beliau adalah Abun Nashri al-Faradisi] dari Abu Muthi’ Mu’awiyah bin Yahya : memberitakan padaku Arthah beliau berkata : Aku mendengar Abu ‘Amir al-Alhani [beliau adalah ‘Abdullah bin Ghobir] berkata : Aku mendengar Tsauban maula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditanya tentang berpuasa pada hari Sabtu dan beliau menjawab : Tanyakan pada ‘Abdullah bin Busr, kemudian ‘Abdullah bin Busr ditanya tentang hal ini lalu beliau menjawab :
صيام يوم السبت لا لك ولا عليك
“Berpuasa pada hari Sabtu itu, tidak ada bagimu dan tidak wajib atasmu.”
Ucapan ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu “Laa laka wa ‘alaika” tidak bermaksud pembolehan, oleh karena itulah Imam Nasa’i meletakkan atsar mauquf ini di dalam bab : “an-Nayhu ‘an Yaumis Sabti”.
Dan lafazh “laa laka wa ‘alayka” ini serupa dengan lafazh hadits :
مَنْ صام الدهر فلا صام ولا أفطر
“Barangsiapa yang berpuasa dahr (selamanya) maka tidak (dianggap) berpuasa dan tidak pula berbuka.” Padahal telah maklum bahwa puasa dahr itu hukumnya terlarang.
Jadi, bukanlah suatu hal yang mengada-ada apabila kami mengatakan bahwa Sahabat yang mulia, ‘Abdullah bin Busr adalah salaf kami di dalam masalah ini. Jadi, menyatakan bahwa kami tidak punya salaf di dalam masalah ini adalah pendapat yang tidak tepat dan berangkat dari minimnya penelaahan dan pembahasan serta terlalu tergesa-gesa di dalam menghukumi sesuatu.
Argumen al-Ustadz Abu Salma ini sejatinya adalah argumen Al-Imam Albani rahimahullah :
1. Berkata Al-Imam Al-Albani rahimahullah ta’ala dalam kaset Silsilah Huda Wan Nur No. 182 :
هناك حديث موقوف على عبد الله بن بسر راوي حديث لا تصوموا يوم السبت وهو آخر صحابي مات في الشام، يقول صيام يوم السبت لا لك و لا عليك. ونحن معشر السلفيين نفهم من لا لك أي لا يشرع لك، لأن هذا مثل قوله عليه السلام من صام الدهر فلا صام و لا أفطر. فهل يجوز أن يصوم الدهر ما دام هو لا صام ولا أفطر؟ لا صام: شرعاً، و لا أفطر: واقعاً. إذاً فيم يتعب الإنسان نفسه؟ إذاً لا يشرع بشهادة راوي الحديث صيام يوم السبت
Baca entri selengkapnya »