Hukum Mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam

Berikut fatwa berkaitan akan masuknya bulan Muharram

سئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله ما حكم التهنئة بالسنة الهجرية وماذا يرد على المهنئ ؟

فأجاب رحمه الله :

إن هنّأك احد فَرُدَّ عليه ولا تبتديء أحداً بذلك هذا هو الصواب في هذه المسألة لو قال لك إنسان مثلاً نهنئك بهذا العام الجديد قل : هنئك الله بخير وجعله عام خير وبركه ، لكن لا تبتدئ الناس أنت لأنني لا أعلم أنه جاء عن السلف أنهم كانوا يهنئون بالعام الجديد بل اعلموا أن السلف لم يتخذوا المحرم أول العام الجديد إلا في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه. انتهى

المصدر إجابة السؤال رقم 835 من اسطوانة موسوعة اللقاء الشهري والباب المفتوح الإصدار الأول اللقاء الشهري لفضيلته من إصدارات مكتب الدعوة و الإرشاد بعنيزة

Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ditanya :Apa hukum mengucapkan selamat tahun baru islam.Bagaimana menjawab ucapan selamat tersebut.

Syaikh menjawab: Jika seseorang mengucapkan selamat,maka jawablah, akan tetapi jangan kita yang memulai.Inilah pandangan yang benar tentang hal ini.Jadi jika seseorang berkata pada anda misalnya:”Selamat tahun baru!, anda bisa menjawab “Semoga Allah jadikan kebaikan dan keberkahan ditahun ini kepada anda” Tapi jangan anda yang mulai, karena saya tidak tahu adanya atsar salaf yang saling mengucapkan selamat hari raya.Bahkan Salaf tidaklah menganggap 1 muharram sebagai awal tahun baru sampai zaman Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu.

Catatan saya: Ini sama juga untuk ucapan-ucapan yang biasa beredar semisal “Kullu ‘aamin wa antum bi khoirin”.Juga mengenai Hari Raya Lebaran, boleh mengucapkan “Mohon maaf lahir batin” dan yang semisal selama tidak mengandung dosa.

Abu Umair As-Sundawy

About these ads

10 Komentar »

  1. Abu Al-Jauzaa' said

    Abu Umair berkata :

    “Catatan saya: Ini sama juga untuk ucapan-ucapan yang biasa beredar semisal “Kullu ‘aamin wa antum bi khoirin”.Juga mengenai Hari Raya Lebaran, boleh mengucapkan “Mohon maaf lahir batin” dan yang semisal selama tidak mengandung dosa.”

    Abu Al-Jauzaa’ berkata :

    “Kalau tidak salah dalam Ahkaamul-‘Iedain karya Syaikh ‘Ali Al-Halaby dikatakan bahwa Kullu ‘aamin wa antum bi khair yang sering diucapkan pada hari raya tidak ada dasarnya. Yang ada dasarnya adalah ucapan dari para shahabat : Taqabbalallaahu minna wa minkum (lihat atsar ini dalam Fathul-Bari 2/446 dan Al-Mughni 2/259; keduanya dengan sanad hasan) . Maka ucapan Kullu ‘aamin wa antum bi khair ini hendaknya ditinggalkan karena telah tsabit atsar dari para shahabat mengenai ucapan selamat hari raya ini. Allah berfirman :

    أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ
    “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (QS. Al-Baqarah : 61)

    Allaahu a’lam.

    Yang lainnya sependapat……….

    Terima kasih atas artikelnya. Sangat bermanfaat. Baarakallaahu fiikum.

  2. Abu Umair As-Sundawy said

    Hasanan ya Akhy!
    Syukran wajazaakumullah khoiron atas komentarnya

    Pertama, Tentunya kita harus dudukkan dulu apakah atsar sahabat ini apakah hujjah untuk mengatakan bid’ah tidaknya bagi yang tidak mengucapkan “taqobbalallhu minna wa minkum”….atau mau membedah apakah qoul sahabat itu hujjah (tentunya ini akan panjang,karena qod ikhtalafal ulama).Tapi tidak mengapa jika mau..tafadhol.Setelah itu baru bisa kita tarik kesimpulannya.

    Barusan saya baca email Al-Akh Abu Ishaq yang mengajak diskusi tentang hal ini,saya copas begini (maap sedikit pake bhs sunda):

    iya mangga cari buku an-nubdzah al-kafiyah fi ushulil fiqh nya Ibnu Hazm. Cukup jelas dengan argumentasi yang sangat ampuh menjelaskan hal tersebut.

    Nanti, gabungkan juga dengan pembahasananya Ibnu Qayyim di I’lamul muwaqqi’in tentang masalah apakah qaulnya shahabat secara infirad (non ijma’) itu hujjah atau bukan.

    Tah… eta teh sae…pisan

    Sok cobi ku antum diserat di dieu, naon eta nu aya di syarh baiquniyyah na Imam Ibnu Ustaimin teh…

    Hiji deui, ngeunaan masalah ijma dan qaul shahabah apakah hujjah atau bukan apabilan berselisih pendapat diantara mereka, silakan baca buku an-nubdzah tadi (antum baheula ngopy oge euy, biru warna na, tapi di internet juga banyak). Nah, syaikh ali ada itu rekamannya mensyarah buku ini, meni rame pas bagian apakah qaul shahabah secara infirad adalah hujjah? Beliau banyak mengambil dari I’lamul muwaqqi’in tadi.

    Sok geura sebatkeun naon nu aya di syarah baiquniyyah, terus tambahkeun ku antum ke urang diskusi

    Silahkan jika nanti mau bergabung?

    Kedua,simak fatwa Al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Majmu’ fatawa beliau (16/208-210) :
    سئـل الشيخ ابن عثيمين : ما حكـم التهنئة بالعيد ؟ وهل لها صيغة معينة ؟

    فأجاب :

    “التهنئة بالعيد جائزة ، وليس لها تهنئة مخصوصة ، بل ما اعتاده الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً” اهـ .

    وقال أيضاً :

    “التهنئة بالعيد قد وقعت من بعض الصحابة رضي الله عنهم ، وعلى فرض أنها لم تقع فإنها الاۤن من الأمور العادية التي اعتادها الناس ، يهنىء بعضهم بعضاً ببلوغ العيد واستكمال الصوم والقيام” اه

    Al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: Apa hukum mengucapkan selamat hari raya ied dan apakah ada kalimat tertentu?

    Syaikh menjawab :Adalah boleh mengucapakan ucapan selamat hari raya ied.Tidak ada ucapan khusus.Bahkan ucapanucapan yang biasa dipakai oleh masyarakat adalah boleh selama tidak mengandung dosa.

    Ditempat lain ada rincian sebabnya :
    وسئـل رحمه الله تعالى : ما حكـم المصافحة ، والمعانقة والتهنئة بعد صلاة العيد ؟

    فأجاب :

    “هذه الأشياء لا بأس بها ؛ لأن الناس لا يتخذونها على سبيل التعبد والتقرب إلى الله عز وجل ، وإنما يتخذونها على سبيل العادة ، والإكرام والاحترام ، ومادامت عادة لم يرد الشرع بالنهي عنها فإن الأصل فيها الإباحة” اهـ .

    Juga Syaikh ditanya ,apa hukum saling bersalaman, memeluk dan mengucapkan selamat setelah sholat ied.

    Syaikh menjawab :”Tidak mengapa hal seperti ini,karena orang tidak melakukannya hal seperti ini sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, akan tetapi karena kebiasaan atau saling menghormati/menghargai satu sama lain.Selama suatu kebiasan tidak dilarang syariat, maka pada asalnya adalah boleh.

    Didalam majalah Adz-Dzakhirah Al-Islamiyah, staff penjawab disana mengatakan, bahwa dia mendengar sendiri As-Syaikh Al-Muhaddist Abdul Muhsin Al-Abbad juga ditanya tentang ucapan :Kullu Aam wa antum bi khoirin” dihari raya.Kata beliau tidak mengapa.Silahkan coba baca lebih tepatnya tulisan dalam majalah tersebut.

    Wallahu a’lam.

  3. Abu Umair As-Sundawy said

    Tambahan :

    سئل شيخ الإسلام ابن تيمية في “الفتاوى الكبرى” (2/228) : هَلْ التَّهْنِئَةُ فِي الْعِيدِ وَمَا يَجْرِي عَلَى أَلْسِنَةِ النَّاسِ : ” عِيدُك مُبَارَكٌ ” وَمَا أَشْبَهَهُ , هَلْ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرِيعَةِ , أَمْ لا ؟ وَإِذَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرِيعَةِ , فَمَا الَّذِي يُقَالُ ؟

    فأجاب :

    “أَمَّا التَّهْنِئَةُ يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ إذَا لَقِيَهُ بَعْدَ صَلاةِ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ , وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك , وَنَحْوُ ذَلِكَ , فَهَذَا قَدْ رُوِيَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَفْعَلُونَهُ وَرَخَّصَ فِيهِ , الأَئِمَّةُ , كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ . لَكِنْ قَالَ أَحْمَدُ : أَنَا لا أَبْتَدِئُ أَحَدًا , فَإِنْ ابْتَدَأَنِي أَحَدٌ أَجَبْته , وَذَلِكَ لأَنَّ جَوَابَ التَّحِيَّةِ وَاجِبٌ , وَأَمَّا الابْتِدَاءُ بِالتَّهْنِئَةِ فَلَيْسَ سُنَّةً مَأْمُورًا بِهَا , وَلا هُوَ أَيْضًا مَا نُهِيَ عَنْهُ , فَمَنْ فَعَلَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ , وَمَنْ تَرَكَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ” اهـ

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya dalam Al-Fatawa Al-Kubra (2/228):Apakah ucapan selamat hari raya yang tersebar dimasyarakat seperti ‘Iedul Mubarak” dsb, apakah ada dasarnya dalam syariat atau tidak? Jika ada ,apa yang sebaiknya kita katakan?

    Berkaitan dengan ucapan selamat di hari raya ied, dimana orang saling mengatakan ketika berjumpa setelah sholat ied :””Taqabbalallah minna waminkum wa AhalahuLLAH ‘alaik” dan yang semisal, ini diriwayatkan oleh sejumlah sahabat yang melakukannya dan memberi rukhshoh sahabat lainnya melakukannya (saling mengucapkan salam).Begitu pula seperti Imam Ahmad.Dan dari Imam Ahmad : Saya tidak memulai salam seperti ini dengan siapapun.Tetapi jika seseorang menyalami saya saya akan jawab salam tersebut.Ini karena menjawab salam adalah wajib,tetapi memulainya ini bukan sunnah tapi bukan pula terlarang.Yang melakukannya punya contoh, dan bagi yang tidak melakukannya juga punya contoh.Allahu a’lam.

    Apakah lantas kita berkata tidak boleh atau haram menjawab seseorang yang mengatakan “Mohon maaf lahir batin” misalnya kepada kita?

  4. Abu Al-Jauzaa' said

    Tidak akhi,…. ana tidak berkata seperti itu. Yang ana nukil dari Ahkaamul-‘Iedain ini hanya menyatakan hendaknya kita melazimkan dari apa-apa yang telah shahih dari shahabat saja. Hal ini dengan uraian para ulama tentang takbir ‘Ied yang dijaman sekarang ini banyak tambahannya yang macem-macem rupa. Sepengetahuan ana, tidak ada yang mengatakan bahwa takbir shahabat (statusnya mauquf, shahih) tidak lebih utama daripada tambahan-tambahan yang ada di jaman sekarang. Bahkan Ibnu Hajar mengingatkan betapa pentingnya mengikuti takbir yang dicontohkan ini. Dan mungkin sama halnya dalam kasus yang kita bicarakan ini.
    Tentang perkataan dan amalan shahabat ?,….. Ada beberapa khilaf mengenai hal ini yang membutuhkan perincian. Silakan diuraiakan. Ana yang menikmati saja yaaa…….

    ‘Alaa kulli haal, ana ga mengatakan bahwa “Mohon maaf lahir bathin” dan “Kullu ‘aamin ….dst” itu HARAM secara mutlak lho….. Dan alhamdulillah ana telah sedikit tahu tentang khilaf ulama mengenai ini.
    Maaf jika kurang berkenan yangbanyak kata ini akhi……

    Baarakallaahu fiik (Abu Al-Jauzaa’)

  5. Abu Al-Jauzaa' said

    Satu lagi yang mungkin patut kita cermati untuk masalah pengucapan selamat hari raya (Taqabalallaahu minnaa wa minkum) dan badalnya (kullu ‘aamin….. dst. dan yang lainnya). Ana tertarik dengan ungkapan al-akh Abu Umair tentang pembahasan : “Apakah perkataan dan perbuatan shahabat yang bukan merupakan ijma’ merupakan hujjah ?”. Di sini ana tidak akan membahas tentang hal itu. Tapi tentang dalil ucapan “Taqabalallaahu minna wa minkum” itu merupakan perbuatan seorang shahabat atau merupakan perbuatan banyak shahabat ?

    Berikut riwayat yang dimaksud :

    ذكر ابن التركماني في الجوهر النقي حاشية البيهقي ( 3/ 320 – 321 ) ، قال : قلت : وفي هذا الباب – أي التهنئة بالعيد – حديث جيد أغفله البيهقي ، وهو حديث محمد بن زياد ، قال : كنت مع أبي أمامة الباهلي وغيره من أصحاب النبي صلى الله عليه وآله وسلم ، فكانوا إذا رجعوا يقول بعضهم لبعض : ( تقبل الله منا ومنكم ) ، قال : أحمد بن حنبل : إسناده جيد . اهـ .

    Ibnu Turkumani menyebutkan dalam Al-Jauharun-Nqi Hasyiyah Al-Baihaqi (3/320-321) …..dst ; Muhammad bin Ziyad berkata : “Aku pernah bersama Abu Umamah Al-Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila mereka bila kembali (dari shalat ‘Ied) berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : “Taqabbalallahu minnaa wa minkum”. (Berkata Imam Ahmad bin Hanbal : Isnadnya jayyid)

    Riwayat di atas menyebutkan lafadh : “Fakaanuu idzaa raja’uu yaquulu ba’dluhum ba’dla”; memberikan pemahaman secara jelas bahwa ucapan Taqabalallaahu minna wa minkum itu bukan perbuatan satu atau dua orang shahabat saja. Bahkan atsar di atas memberikan pemahaman bahwa ucapan itu merupakan KEBIASAAN yang masyhur di kalangan shahabat di kala hari raya. Dan setahu ana, amalan tersebut tidak ada yang mengingkari dari kalangan shahabat yang lainnya.
    Dan tentu kita sangat faham akan kaidah : Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umat ini dalam kesesatan. Apalagi jikalau umat itu dinisbatkan pada shahabat. Perhatikan pula riwayat-riwayat maqbul yang semakna di bawah ini :

    وأخرج الأصبهاني في الترغيب والترهيب ( 1/251) عن صفوان بن عمرو السكسكي قال : سمعت عبد الله بن بُسر وعبد الرحمن بن عائذ وجبير بن نفير وخالد بن معدان ، يقال لهم في أيام الأعياد : ( تقبل الله منا ومنكم ) ، ويقولون ذلك لغيرهم . وهذا سند لابأس به .

    وجاء في الفتح ( 2/446) : وروينا في المحامليات بإسناد حسن عن جبير بن نفير قال : كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : ( تقبل الله منا ومنكم ) .

    أخرجه الطبراني في الدعاء ( 929 ) ثنا الحسن بن علي المعمري ، ثنا علي بن المديني ثنا أبو داود سليمان بن داود ، ثنا شعبة قال : لقيني يونس بن عبيد في يوم عيد ، فقال : تقبل الله منا ومنك . وهذا سند مسلسل بالحفاظ المكثرين ، والمعمري تُكُلِّم فيه بكلام لا يضره هنا ؛ بسبب الغرائب والله أعلم .

    Pelajaran yang bisa kita petik dari riwayat-riwayat tersebut di atas adalah bahwa ucapan yang hendaknya diucapkan ketika Hari Raya adalah ucapan “Taqabalallaahu minnaa wa minkum” atau ucapan lain yang bersumber dari amalan para shahabat (jikalau ada). Adapun ucapan-ucapan lainnya dari perkataan manusia, maka sudah selayaknya kita TINGGALKAN.
    Allaahu a’lam

    Abu Al-Jauzaa’ Al-Jawy

  6. Abu Umair As-Sundawy said

    Barakallah fikum, Ya Akhiy,

    Pertama, saya tidak mengingkari adanya atsar sahabat serta salaf yang cukup banyak.Lain saatnya bisa saya tuliskan disini berikut praktek para tabi’in pula.Yaitu dalam ungkapan “Taqabbalallah minna waminkum”

    Kedua
    Saya sepakat bahwa awla’ kita pakai dengan lafadz demikian, sebagaimana dikatakan
    وكل خير في اتباع من سلف وكل شر في ابتداع من خلف

    Ketiga
    Saya sepakat dengan Imam Ahmad bahwa perkara ini “laisa sunnatun ma’murun biha” (bukan sunnah yang diperintahkan Rasulullah).Kecuali bahw menjawab salam itu wajib.Adakal perintah dari beliau,bahkan dengan lafadz khusus? Fal ya’thi ad-dalil!

    Keempat
    Olehkarenanya perkara ini lebih dekat kepada ‘aadat” ketimbanh “perintah ibadah”.Olehkarenanya al-ashlu fil ‘aadat, al-ibahah”.Jangan diingkari bagi yang mau dan tidak bertahniah.Sejalan dengan fatwa Syaikh Utsaimin diatas.

    Dalam hal ini saya sepakat apa yang “dulu” pernah ditulis Syaikh Abul Hasan As-Sulaimaniy dalam “Tanwirul aynain bi ahkam adha wal ‘ied” setelah membawakan dalil-dalil masyru’nya mengucapkan tahniah ketika ‘ied, berkata :

    يرد دليل بالمنع ، بخلاف العبادات التي يحتاج المتكلم فيها إلى نقل الدليل على ما يقول ، ومعلوم أن العادات تختلف من زمان لآخر ، ومن مكان لآخر ، إلا أن أمراً ثبت عن الصحابة أو بعضهم فعله ، هو أولى من غيره ، والله أع

    Menurut pendapat saya :Perkara ucapan selamat ketika ‘ied lebih dekat kepada masalah kebiasaan dibanding ibadah.Sedangkan asal dalam adat adalah boleh,kecuali ada dalil yang melarangnya.Berbeda ketika urusan ibadah, maka wajib membawakan dalil atas apa yang dikatakannya.Dan adalah ma’lum bahwa adat itu bisa berubah sesuai zamannya, dari satu tempat ke tempat lainnya.Kecuali bahwa jika perbuatan tersebut tsabit dikalangan sahabat maka ini lebih pantas dari yang selainnya

    Kelima,Selain Al-IImam Ibnu Utsaimin begitu juga Syaikhul Islam dalam memahani perkara ini yang telah saya nukil diawal, berikut kita lihat pemahaman Al-Allamah Al-Imam Ibnu Baz rahimahullah,:

    س:الأخ: ص.م.م. من واشنطن يقول في سؤاله :
    يقول الناس في تهنئة بعضهم البعض يوم العيد ( تقبل الله منا ومنكم الأعمال الصالحة )أليس من الأفضل يا سماحة الوالد أن يدعو الإنسان بتقبل جميع الأعمال , وهل هناك دعاء مشروع في مثل هذه المناسبة ؟

    ج – لا حرج أن يقول المسلم لأخيه في يوم العيد أو غيره تقبل الله منا ومنك أعمالنا الصالحة , ولا أعلم في هذا شيئا منصوصا وإنما يدعو المؤمن لأخيه بالدعوات الطيبة , لأدلة كثيرة وردت في ذلك , والله الموفق .

    من ضمن الأسئلة الموجهة من ( المجلة العربية )
    من فتاوى بن باز رحمه الله

    Tidak mengapa seorang muslim mengucapka kepada saudaranya dihari ‘ied atau yang lainnya dengan “Taqobbalallahu minna wa minka a’malana as-sholihah”.Saya tidak tahu dalam hal ini sesuatu yang di nash kan,hanya saja seorang mendoakan saudaranya dengan doa’- do’a yang baik atas dasar dalil-dalil yang banyak dalam hal demikian

    keenam
    Kita lihat pemahamam Imam Madzahib :
    a.Imam Abu Hanifah.
    Menurut penulis Ad-Dur Al-Mukhtar, dikatakan tidak tercata lafadz khusus bagi Abu Hanifah maupun sahabatnya.Pentahqiq kitab tersebut berkomentar begini mengenai ucapan Iedul Mubarak ‘alaik yang tersebar di negeri Syam dan Mesir bahwa hal tersebut dari talazum:
    والمتعامل في البلاد الشامية والمصرية: عيد مبارك عليك ونحوه، وقال: يمكن أن يلحق بذلك في المشروعية والاستحباب لما بينهما من التلازم، فإن من قبلت طاعته في زمان كان ذلك الزمان عليه مباركا، على أنه قد ورد الدعاء بالبركة في أمور شتى فيؤخذ منه استحباب الدعاء بها هنا أيضا.

    b.Imam Malik.

    سئل الإمام مالك عن قول الرجل لأخيه يوم العيد: تقبل الله منا ومنك يريد الصوم وفعل الخير الصادر في رمضان، وغفر الله لنا ولك فقال: ما أعرفه ولا أنكره. قال ابن حبيب: معناه لا يعرفه سنة ولا ينكره على من يقوله; لأنه قول حسن لأنه دعاء، حتى قال الشيخ الشبيبي يجب الإتيان به لما يترتب على تركه من الفتن والمقاطعة. ويدل لذلك ما قالوه في القيام لمن يقدم عليه، ومثله قول الناس لبعضهم في اليوم المذكور: عيد مبارك، وأحياكم الله لأمثاله، لا شك في جواز كل ذلك بل لو قيل بوجوبه لما بعد; لأن الناس مأمورون بإظهار المودة والمحبة لبعضهم

    Imam Malik ditanya mengenai ucapan-ucapan yang beredar ketika ‘ied ,beliau menjawab “La a’rifuhu wala unkiruhu” .Maknanya dijelaskan Ibnu Habib :” Tidak diketahu ini sunnah juga tidak diingkari ucapan ini.Mengapa tidak diingkari? Karena ini ucapan yang baik dan doa.Bahkan berkata Syaikh As-Sybaibi mengatakan wajib jika bisa timbul fitnah dan permusuhan …dst

    c.Imam Syafi’iy.
    نقل الرملي عن القمولي قوله: لم أر لأصحابنا كلاما في التهنئة بالعيد والأعوام والأشهر كما يفعله الناس، لكن نقل الحافظ المنذري عن الحافظ المقدسي أنه أجاب عن ذلك بأن الناس لم يزالوا مختلفين فيه، والذي أراه أنه مباح لا سنة فيه ولا بد

    Lihat Al-Hafidz Al-Mundziri mengatakan manusia saat itu berbeda beda didalam ucapan ini.

    d.Imam Ahmad,
    Sudah dijelaskan sikap Imam Ahmad ini.

    Ketujuh
    Jika dibawa kepada masalah takbir, bukankah ada perintah secara umum dalam hal tersebut.Adapun tahniah, apakah ada juga?

    Kedelapan
    Ada sebagian masyarakat,aneh dengan lafadz “Taqobbalallah…dst”,bahkan jika kita tidak berucapa minta maaf, dinilai hal yang buruk,tidak sopan dsb.Bagaimana? Apakah tidak boleh?

    Wallahu ta’ala a’lam.
    Akhukum

  7. Abu Al-Jauzaa' said

    Sepakat akhi,…… sangat sepakat. Dan sebagian yang antum nukil tersebut bahkan terdapat dalam Kitab Ahkaamul-‘Iedain (yaitu sebagian ulama tidak memulai ucapan tahniah). Tidak ada lafadh khusus marfu’ dalam hal ini. Yang ada adalah mauquf.
    Ana setuju pula bahwasannya hal ini lebih dekat dengan perkara adat, sebagaimana dikatakan Abul-Hasan Al-Mishri yang antum sitir sebagai berikut :

    “Dalam hal ini saya sepakat apa yang “dulu” pernah ditulis Syaikh Abul Hasan As-Sulaimaniy dalam “Tanwirul aynain bi ahkam adha wal ‘ied” setelah membawakan dalil-dalil masyru’nya mengucapkan tahniah ketika ‘ied, berkata :

    يرد دليل بالمنع ، بخلاف العبادات التي يحتاج المتكلم فيها إلى نقل الدليل على ما يقول ، ومعلوم أن العادات تختلف من زمان لآخر ، ومن مكان لآخر ، إلا أن أمراً ثبت عن الصحابة أو بعضهم فعله ، هو أولى من غيره ، والله أع

    Menurut pendapat saya :Perkara ucapan selamat ketika ‘ied lebih dekat kepada masalah kebiasaan dibanding ibadah.Sedangkan asal dalam adat adalah boleh,kecuali ada dalil yang melarangnya.Berbeda ketika urusan ibadah, maka wajib membawakan dalil atas apa yang dikatakannya.Dan adalah ma’lum bahwa adat itu bisa berubah sesuai zamannya, dari satu tempat ke tempat lainnya.Kecuali bahwa jika perbuatan tersebut tsabit dikalangan sahabat maka ini lebih pantas dari yang selainnya”.(selesai)

    Perkataan : “….Kecuali bahwa jika perbuatan tersebut tsabit di kalangan shahabat maka ini lebih pantas dari yang selainnya” [إلا أن أمراً ثبت عن الصحابة أو بعضهم فعله ، هو أولى من غيره ]; maka perkataan inilah yang ana maksudkan. Jika telah tsabit perbuatan tersebut dari para shahabat, maka ucapan-ucapan lain “hendaklah ditinggalkan” untuk mencontoh generasi salaf. Dan tentu ini sesuai dengan ayat :

    أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ
    “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?” (QS. Al-Baqarah : 61)

    Tidak dipungkiri bahwa ucapan Taqabalallaahu minnaa wa minkum adalah lebih baik dari ucapan selainnya. Sebagaimana dikatakan juga oleh Abu ‘Umair : “Saya sepakat bahwa awla’ kita pakai dengan lafadz demikian, sebagaimana dikatakan
    وكل خير في اتباع من سلف وكل شر في ابتداع من خلف [Setiap kebaikan adalah dengan ittiba' kepada salaf, dan setiap kejelekan adalah dengan ibtida' kepada generasi khalaf].”

    Tentu ucapan Abu ‘Umair tentang Al-Aulaa di sini menunjukkan afdlaliyyah bukan ?

    Perkataan “hendaklah ditinggalkan” di sini tentu bukan content dari bahasan : Boleh dan Tidak; atau Halal dan Haram.
    Bukan itu maksud ana mengangkat komentar di atas dari awal.

    Abu ‘Umair berkata : “Kedelapan
    Ada sebagian masyarakat,aneh dengan lafadz “Taqobbalallah…dst”,bahkan jika kita tidak berucapa minta maaf, dinilai hal yang buruk,tidak sopan dsb.Bagaiamana? Apakah tidak boleh?”

    Abu Al-Jauzaa’ berkata : “Karena perkaranya bukan pada perkara boleh dan tidak boleh; maka tentu hal ini agak lebih “luas” dalam pengamalannya. Jangankan masalah tahniah, perbuatan yang sesuai Sunnah pun tidak dianjurkan untuk dilakukan jikalau menimbulkan fitnah di kalangan masyarakat (selama yang dilakukan masyarakat tersebut juga sesuai dengan Sunnah). Contohnya masalah adzan dengan segala variasi lafadhnya. Kita tidak dianjurkan melakukan tarji’ kalimat syahadatain jikalau hal itu menimbulkan fitnah di kalangan masyarakat. Tentu hal ini harus diikuti dengan bayan bahwa adzan itu ada beberapa lafadh yang disyari’atkan (selain apa yang telah masyhur dilakukan oleh masyarakat).
    Begitu pula dengan apa yang menjadi bahasan kita sekarang ini. Tentu jika lafadh Taqabalallaahu minna wa minkum menimbulkan “fitnah” (alhamdulillah ana belum pernah mengalaminya), maka ucapan itu boleh ditinggalkan dan menggunakan apa-apa yang telah masyhur di masyarakat (selama ucapan itu baik dan tidak mengandung dosa – sebagaimana penjelasan para ulama yang telah Abu ‘Umair sitir). Dan tentunya hal itu hendaknya diikuti dengan bayan bahwa ucapan Taqabalallaahu minna wa minkum adalah lafadh yang afdlal yang dilakukan oleh salaf. Allaahu a’lam.

    Ana kira, sampai paragraf terakhir di atas apa yang menjadi pemahaman antara Abu Al-Jauzaa’ dengan Abu ‘Umair tidaklah berbeda. Hanya berbeda kalimat penyampaiannya saja.

    NB :
    1. Abu Al-Jauzaa’ telah salah dalam pengqiyasan masalah tahniah dengan masalah takbir.
    2. Silakan atuh Abu Umair jikalau mau menuliskan atsar tabi’in mengenai permasalahan tahniah. Sangat ana nantikan. Soalnya referensi yang ana punyai juga tidak banyak……. Sekali lagi sangat dinantikan. Semoga Allah menambah ilmu dan amal bagi kita semua…………

  8. Abu Umair As-Sundawy said

    Barakallah fikum,

    Tambahan, jika masih tertarik dengan pembahasan “Apakah perkataan dan perbuatan shahabat yang bukan merupakan ijma’ merupakan hujjah ?”

    Di milis, Al-Akh Abu Ishaq memberikan rujukan dan petunjuk pada saya,berikut copasannya :

    Pertama,

    Apakah ijma’ merupakan hujjah? Ijma’ yang mana yang mu’tabar? Benarkah ijma’ yang mu’tabar yang bisa dihukumi kafir orang yang menolaknya hanya berlaku untuk ijma’nya shahabat atau untuk ijma seluruh kaum muslimin sedunia? Jika ada perkataan: Ulama telah ijma’ bahwa hukum ini demikian dan demikian, apakah ijma’ ini mu’tabar dan bisa dijadikan hujjah?

    Untuk mendapatkan pembahasan ini lengkap dengan hujjah dan munaqasyahnya dengan gaya bahasa yang lugas dan sangat mudah dicerna, silakan baca buku An-Nubdzah Al-Kafiyah fi Ushulil Fiqh yang ditulis oleh Ibnu Hazm mulai halaman 17 atau halaman 4 versi soft file internet terlampir (bisa di download di:

    http://saaid.net/book/open.php?cat=4&book=1189 atau

    di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/attachment.php?attachmentid=15531&d=1122071557)

    Kedua,

    Apakah perkataan shahabat yang bukan ijma’ tetap bisa digunakan sebagai hujjah? Sejauh mana perkataan shahabat bisa dianggap sebagai hujjah?

    Untuk mendapatkan pembahasan ini secara lengkap dan tuntas silakan merujuk ke I’lamul Muwaqq’in yang ditulis oleh Ibnul Qayyim (4/118-153) (bisa di download di http://www.saaid.net/book/open.php?cat=4&book=1892)

    Saya mohon maaf tidak bisa menuliskan lebih, ada beberapa alasan termasuk diantaranya waktu. Khusus untuk masalah kedua, sekiranya Mas Abu Umair dan rekan sekalian tidak banyak waktu untuk merujuk langsung dan atau meramu dari beberapa literature, terlampir adalah tulisan yang cukup baik sebagai hasil ramuan yang mudah-mudahan cukup untuk menghilangkan dahaga. Judulnya Hujjiyyatu Qaulish Shahabi ‘indas Salaf yang ditulis oleh DR. Tarhib bin Rabi’an bin Hadi Ad-Dausari (bisa di download di:

    http://saaid.net/book/open.php?cat=4&book=393 atau

    http://www.sahab.org/books/book.php?id=306 atau

    http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=1662)

    Demikian disampaikan, semoga cukup membantu.

    Yang tidak bisa terima attachment tapi bisa browsing, silakan download sendiri J

    Abu Ishaq As-Sundawy

  9. Abu Umair As-Sundawy said

    Sebagai tambahan , ada fatwa Syaikh Ibn Jibrin mengenai tahniah sebagaimana dalam artikel ini.Baik ketika awal ramadhan, lebaran , tahun baru hijriyah, dst.Beliau pun membolehkannya…

    http://www.ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=masal&subid=788&parent=785

    Salam,
    Abu Umair

  10. [...] Jawaban : Jika seseorang memberikan ucapan selamat kepada anda, kemudian bereaksi terhadap dia, tetapi seseorang tersebut tidak memulainya; maka ini adalah sikap yang benar dalam kasus ini. Jika seorang laki-laki, sebagai contoh, berkata: “Kami ucapkan selamat tahun baru (hijriyah),” maka katakan, “Semoga Allah memberikan kebaikan kepada anda dan menjadikannya sebagai tahun kebaikan dan barakah.” Namun, jangan engkau memulai sendiri (ucapan ini), sebab saya tidak mengetahui hal ini datang dari pendahulu (Salafus Sholih) kita, dimana mereka dulu memberi selamat satu sama lain untuk tahun baru. Bahkan, (saya) mengetahui bahwa Salaf tidak mengambil Muharram sebagai bulan pertama tahun hijriyah, kecuali setelah kepemimpinan Umar bin Khattab, semoga Allah merahmatinya. Diterjemahkan dari http://www.salafitalk.net Judul Asli: Hukum Memberi Ucapan Tahun Baru Hijriyah. Sumber: http://www.salafy.or.id versi offline Untuk lebih jelasnya silahkan klik (lihat komentar): http://salafyitb.wordpress.com/2007/01/19/hukum-mengucapkan-selamat-tahun-baru-islam [...]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: