Isbal,sebuah pandangan dari sisi lain

Penulis :Abu Ishaq Umar Munawwir

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh

Alhamduluillah washshalatu was salaamu ‘ala rasuulillah wa’ala aalihi washahbihi wa man waalah.

Saudara sekalian,

Pagi tadi sesaat sebelum berangkat ke kantor saya sempatkan membuka Sunan Abi Dawud dan Sunan At-Tirmidzi. Saya kemudian terhenti pada hadits-hadits mengenai isbal. Semakin disimak dan dihayati, seandainya semua hadits berkenaan dengan isbal di kedua kitab Sunan tersebut shahih semuanya, tentulah pembahasan mengenai isbal akan semakin menarik, terutama mengenai muthlaq dan muqayyad yang menjadi asal adanya hukum boleh kalau tidak sombong. Bagaimana pula dengan hadits-hadits di kitab Sunan yang lain ataupun di kitab Musnad dan Mushannaf?

Saya belum sempat cek semua derajat hadits-haditsnya, tapi sebagian ada yang jelas shahih karena jelas dinyatakan demikian oleh para ulama. Niatnya sih di kantor mau dicari tapi qaddarullah baru punya waktu luang selepas maghrib. Mudah-mudahan lain waktu semangat tidak kendur untuk merunut yang satu ini.

Ada satu hadits yang belum sempat saya temukan pagi tadi, mohon bantuan saudara-saudara jika ada waktu luang, yaitu tentang Ibnu Mas’ud yang ketika naik pohon tersingkap betisnya yang kecil kemudian diledek oleh para sahabat. Lalu Nabi mengatakan bahwa hari kiamat nanti kedua betis Ibnu Mas’ud ini lebih kokoh dan lebih berat timbangan kebaikannya dari gunung. Atau semisal itu lah…kalau tidak salah riwayat At-Tirmidzi. Saya mau beristidlal juga dengan hadits tersebut untuk masalah isbal ini.

Seperti sudah disampaikan sebelumnya, dalil-dalil dalam masalah isbal ini ada dua. Isbal secara mutlak. Dan isbal karena khuyala (sombong)

Dalilnya tegas dan shahih sehingga bahtsnya bukan lagi di ada atau tidak adanya dalil dan bukan pula di shahih atau tidaknya dalil tersebut. Yang tersisa adalah fiqih haditsnya. Dan di sinilah para ulama mulai berbeda pendapat. Banyak qaul ulama yang sudah diquote Pak Abu Umair, semuanya berputar sekitar muthlaq dan muqayyad. Kemudian datanglah kutipan pembahasan Pak Abu Salma yang cukup ciamik. Ada dikupas juga di sana bantahan bagi pendapat yang memberlakukan muthlaq dan muqayyad dalam masalah ini. Namun demikian tentu ada sebagian mereka yang memiliki pertanyaan sisa dibenaknya belum terpuaskan dahaganya…. Bukankah ini adalah qaul jumhur? Bukankah ini qaul 3 madzhab? Bukankah berbaris di sana para ulama salaf yang sangat mumpuni dari segi keilmuannya, baik hadits, fiqih dan ushul fiqihnya? Dan bukankah kebenaran itu umumnya (ghaaliban) adalah pada jumhur? Apakah kita merasa lebih pandai dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah? Lebih dari itu, apakah kita merasa lebih hebat dari para imam madzhab berikut murid-muridnya?


Sebagai bentuk tanggung jawab dan untuk bebagi faidah setelah sebelumnya mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala, wabillahi nasta’in, saya mencoba menambahkan dan sedikit menggaris atasi dari apa yang sudah ada dan diposting di milist ini. Pembahasan yang sudah ada cukup bagus dan lengkap, namun saya mencoba mengulang sebagian dengan sedikit sentuhan: J Sudut pandang yang lain lah begitu….supaya saling melengkapi..

Wabillahi ta’ala at-taufiiq, Yang menjadi tujuan akhir dalam masalah ini adalah: Apakah isbal dilarang dalam islam? Apakah hukum tersebut terkecuali untuk yang tidak sombong?

Maka:

Pertama, perlu difahami bahwa al-haq ghaaliban ma’al jumhur. Sehingga ketika kita berbeda pandangan dengan jumhur, jangalah tergesa-gesa memutuskan. Kita harus meneliti dan mengkaji lebih mendalam, boleh jadi ada dalil lain yang digunakan oleh jumhur namun kita belum mengetahuinya. Ditambah lagi, hal yang kerap terjadi ketika kita memahami suatu dalil kemudian kita berdiskusi dengan orang lain maka setelah kita diskusi kitapun berubah pendapat mengikuti pendapat si orang tesbut. Demikian pula dalam masalah ini. Namun jika tampak bahwa ternyata kebenaran ada pada kita berdasarkan apa yang kita fahami dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maka tidak masalah bagi kita untuk menyelisisi jumhur. Apalagi lagi jika kita punya pendahulu atau kita mengikuti deretan para ulama yang memang mumpuni yang juga berpendapat sama dan menyelisihi jumhur tersebut, maka tentu ini merupaka murajjih (yang melegitimasi) bahwa pendapat kita memang benar, insya Allah.

Dengan demikian, menyelisihi jumhur itu boleh, tapi selalu dan senantiasa menyelisihi jumhur, nah ini patut dicurigai!? J

Apakah Jumhur sama dengan Ijma’? Jawabnya tidak. Menyelisihi ijma’ adalah haram. Jika apabila kita mempunyai pemahaman yang meyelisihi ijma’ maka dipastikan 1000% pemahaman kita itu yang salah. J Karena umat ini tidak akan ijma’ di atas kesesatan.

Adapun menyelisihi jumhur, nah ini kembali ke paragraph di atas.

‘Ala kulli haal, apa yang kita fahami dari nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah terbagi ke dalam empat keadaan:

1.Apa yang kita fahami bertentangan dengan ijma, maka kita harus membuangnya dan berpagang pada ijma’.
2.Apa yang kita fahami bertentangan dengan jumhur, maka kita harus meneliti dan mengkaji lebih mendalam. Jika ternyata yang rajih ada pada kita, maka kita tetap berpegang pada apa yang kita yakini tersebut.
3.Apa yang kita fahami sesuai dengan apa yang menjadi pendapat jumhur. Ini tentu bagus, dan merupakan nuurun ‘ala nuurin.
4.Apa yang kita fahami sesuai dengan apa yang menjadi ijma’. Fa ahsan wa ahsan.

Kedua, Dalam melihat masalah isbal ini, mari kita tutup mata dulu dari kaedah ushul fiqih: muthlaq wa muqayyad, yang merupakan asal munculnya perbedaan pendapat dalam hukum bolehnya isbal kalau tidak sombong.

Mari kita cukupkan dengan melihat hadits-hadits yang ada. Tidak usah semua, cukup 5 atau 6 hadits saja:

Maa asfala minal ka’baini minal izaar fafin naar (Setiap pakaian yang melebihi mata kaki maka tempatnya adalah di neraka) (Bukhari – Muslim dari Abu Hurairah)

Kita katakan: Hadits ini tegas dan jelas menyatakan musbil itu tempatnya di neraka. Jika ada yang mengatakan: Tidak, isbal itu terlarangnya kalau sombong, kalu tidak sombong ya tidak apa-apa. Dalinya adalah hadits berikut:

Man jarra izaarahu khuyala-a lam yanzhurillahu ilaihi yaumal qiyaamah (Barangsiapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat) (Bukhari – Muslim dari Ibnu Umar)

Kita jawab: Kalau anda beranggapan demikian, silakan anda komentari hadits berikut:

Irfa’ izaaraka ila nisfis saaq, fain abaita failal ka’bain, waiyyaka waisbaalal izzaar fainnahaa minal makhiilah, wainnallaha laa yuhibbul makhiilah (Angkatlah pakaianmu sampai setengah betis, kalau tidak mau maka angkatlah sampai kedua mata kaki. Jauhilah olehmu isbal karena sesungguhnya isbal itu termasuk kesombongan dan Allah tidak menyukai kesombongan) (Abu Dawud dari Jabir bin Salim)

Dalam hadits ini Nabi memerintahkan untuk mengangkat pakaian. Setelah itu memperingatkan agar tidak isbal. Cocok kan dengan hadits No.1?

Kemudian Nabi mengatakan sesungguhnya isbal itu bagian dari kesombongan. Tidakkah ini juga sekalian memborong hadist No. 2? Artinya isbal itu sombong atau tidak sombong tetap haram. Kalau tidak sombong maka kena ancaman hadits pertama. Kalau sombong maka terkena ancaman hadits kedua.

Jika dia mengatakan: Ah tidak ya akhi… jangan dipecah hadits No. 3 tersebut. Justru harus disatukan bahwa isbal itu hubungannya dengan kesombongan.

Kita jawab: Saudara, kata Islam jika disebutkan menyendiri maka maknanya mencakup Iman. Kata Iman jika disebutkan menyendiri, maka maknanya termasuk Islam. Dan kata Islam dan Iman jika disebutkan bersama-sama maka maknanya adalah sendiri-sendiri.

Demikian juga masalah ini. Hadits No.1 menyebutkan tentang isbal. Hadits No. 2 menyebutkan tentang kesombongan dalam isbal. Dan hadits No. 3 menyebutkan tentang keduanya. Jadi? Ya sama, itu adalah dua hal yang berbeda alias tidak bisa digabung. Artinya, jika tidak sombong ya kena ancaman Hadits No.1. Jika sombong ya kena ancaman hadits No. 2.

Ditambah lagi, Hadits tentang isbal itu kata kuncinya adalah mata kaki (Hadits No1 dan No. 3), sedangkan hadits tentang isbal dengan kesombongan kata kuncinya adalah menyeret pakaian. Lalu apa yang akan anda katakan tentang pakaian yang melebihi mata kaki tapi tidak sampai tanah baik sombong atau tidak sombong? Apakah anda akan bilang boleh melebihi mata kaki dan sombong asal tidak sampai menyentuh tanah?

Jika dia mengatakan: Lalu bagaimana dengan hadits Abu Bakar yang melorot celananya dan Nabi mengatakan:

Innaka lasta min man yashna’ khuyalaa-a (Engkau bukan termasuk yang melakukan itu karena sombong) (Abu Dawud dari Ibnu Umar)

Kita katakan: Saudara, apakah anda berfikir Abu Bakar itu orang bodoh? Justru dia itu orang yang pintar. Makanya saking pintarnya dia bertanya kepada Nabi tentang kodisinya. Ketika Nabi mengatakan: Sesungguhnya Allah tidak akan melihat orang yang menyeret pakaiannya karena sombong, kemudian Abu Bakar melorot celannya, sebetulnya Abu Bakar bisa saja tidak bertanya. Toh yang dilarang adalah karena sombong. Beliau kan melorot tidak sengaja bukan sengaja melorotkan sehingga kadang terseret bajunya. Apalagi beliau sama sekali tidak berniat sombong dengan melorotnya itu.

Namun beliau justru bertanya karena kondisinya adalah sebagaimana Hadits No. 1, 2 dan 3, memanjangkan pakian itu dilarang dan ini termasuk kesombongan. Kalau sengaja menyombongkan kena lah ke ancaman hadits Nabi tersebut, makanya dia bertanya, kalo kedodoran sehingga melorot ke bawah mata kaki itu termasuk kategori makhilah/kesombongan tidak? Nah maka nabi menjawab engkau bukan termasuk yang melakukan itu karena kesombongan. Karena pada asalnya beliau juga pakaiannya di atas mata kaki, kemudian melorot sehingga di bawah mata kaki. Lalu beliau bertanya dengan makna apakah ini menjadi bagian dari kesombongan?!

Jika anda tidak puas, mari kita simak hadits Ummu Salamah yang menanyakan tentang bolehnya menjulurkan unjung pakaian wanita setelah Nabi mengatakan hadits No. 2 di atas:

Fakaiafa yashna’un nisa’ bidzuyuulihinna (Apa yang harus dilakukan oleh kaum wanita terhadap ujung pakaiannya?) Nabi menjawab: yurkhiina syibran (panjangkan sejengkal) Ummu salamah melanjutkan: idzan tankasyifu aqdamuhunna (kalau segitu, kaki mereka masih kelihatan) Nabi menjawab: Fayurkhiyannahu dzira’an laa yazidna ‘alaihi (Kalau begitu panjangkan sehasata dan jangan lebih). (At-Tirmidzi dari Ibnu Umar)

Silakan disimak. Apakah Ummu Salamah adalah orang yang bodoh juga sampai bertanya demikian? Bukankah dia bisa saja tidak bertanya, toh wanita memanjangkan pakaian itu karena suatu alasan, yakni menutup aurat. Bukan sombong atau lainnya. Dia ada hajat, ada alasan kenapa harus dipanjangkan. Namun demikian beliau tetap bertanya karena tahu bahwa memanjangkan pakaian adalah bentuk kesombongan.

Jawaban Nabi juga jelas. Kenapa beliau hanya memerintahkan sejengkal, lalu sehasta dan menutup dengan larangan jangan lebih? Bukankah semakin panjang semakin baik, sehingga aurat semakin sulit terlihat mankala ujung baju tersingkap? Jawabnya tentu karena memanjangkan pakain di bawah mata kaki adalah haram karena itu minal makhilah terlebih sampai di seret dan juga disertai niat kesombongan. Karenanya Nabi memerintahkannya hanya sejengkal terlebih dahulu baru kemudian diperpanjang sehasata dan tidak boleh lebih. Apakah pembatasan ini karena Ummu Salamah sombong? Saya kira anda akan sepakat bawah jawabnnya adalah bukan.

Semisal dengan hadits di atas adalah hadits Ibnu Mas’ud:

…. Belum ketemu teksnya… jadi belum mau menurunkan rinciannya J

Jika saudara sekalian merasa belum puas, silakan gabung ini semua dengan apa yang tercantum di pembahasannya Pak Abu Salma yang sebagiannya akan saya coba pertegas nanti.

Maka siapapun yang masih berpendapat bahwa isbal itu boleh kalau tidak sombong, silakan mengajukan alasan lain kenapa demikian. Jika tidak, apakah boleh kita katakan kepada dia bahwa model seperti inilah yang termasuk khuyalaa bahkan bukan lagi khuyala’ tapi malah ‘ainul kibr, yakni batharul haq (menolak kebenaran)? J

Ketiga,Mari sedikit kita kupas tentang muthlaq dan muqayyad yang kebetulan merupakan cara istidlal yang paling baik dalam munculnya hukum bolehnya isbal kalau tidak sombong.

Dalam ushul fiqih ada yang namanya muthlaq dan ada yang namanya muqayyad. (kapan neh mulai belajar ushul fiqihnya saudara-saudara?) J

Ringkasnya, yang namanya muthlaq adalah setiap yang menunjukkan suatu hakikat tanpa adanya qayd (batasan) misalnya manusia, binatang, rumah, mobil, rupiah, dolar dan sebaginya tanpa adanya batasan manusia yang mana, rumah yang bagiamana, mobil yang seperti apa dst…

Adapun muqayyad ya lawannya, yaitu yang menunjukan suatu hakikat dan sudah dibatasi, misalnya manusia yang muslim, binatang yang berkaki empat dan makan rumput dst dst…

Contoh dalam fiqhnya adalah ayat di Surat Al-Mujadilah: 3 “Maka (wajib atasnya) untuk memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri tersebut bersenggama.”

Kata budak di sini muthlaq, tidak disebutkan budak yang bagaimana. Jadi kalau sekiranya dia bebaskan satu orang budak manapun, maka cukup dan sah hukumnya. Inilah yang disebuat muthlaq.

Bandingkan dengan ayat di Surat An-Nisa: 92 tentang diat bagi orang yang membunuh seorang mu’min karena tidak sengaja: “Hendaknya ia membebaskan seorang budak yang beriman…” Dalam ayat ini, kata budak sudah ditaqyid yaitu budak yang beriman. Jadi sekiranya dia memerdekakan budak yang kafir tentu tidak sah diatnya. Inilah yang disebut dengan muqayyad.

Dalam aplikasinya, jika kita mendapati suatu nash yang muthlaq, maka kita cari apakah ada nash lain yang mentaqyid. Jika tidak ada, maka kita amalkan dalam kemuthlaqannya.

Contohnya adalah ayat tentang safar (An-Nisaa: 101) Apakah ada ayat lain yang memberikan batasan (taqyiid) berapa jaraknya? Jawabnya tidak ada. Adakah hadits yang mentaqyid juga? Jawabnya tidak. Berarti kita amalkan dengan kemuthlaqannya.

Dalam permasalahan muthak dan muqayyad ini, ada hal yang harus dicatat sebagai bagian dari pengaplikasian kaedah tersebut. Yaitu: Idza warada nashshun muthlaqun wa nashshun muqayyadun wajaba taqyiidul muthlaq bihi in kaanal hukmu waahidan, wa illa ‘umila bikulli waahidin ‘ala maa warada ‘alaihi min ithlaaqin au taqyiidin. Li annal ikhtilaf fil ashl yamna’u al-ilhaaq bil washf (Apabila datang nash muthlaq dan nash muqayyad, maka wajib membawa yang muthlaq ini kepada yang muqayyad apabila hukumnya sama. Tetapi apabila hukumnya berbeda maka masing-masing nash muthlaq dan muqayyad tersebut diamalkan sendiri-sendiri.)

Contohnya: Firman Allah (Al-Ma-idah: 6) tentang wudhu: “Maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai siku.” Dan tentang tayammum: “Maka usapkanlah ke wajah kalian dan tangan kalian.”

Kata tangan dalam ayat tayammum ini adalah muthlaq, adapun kata tangan dalam ayat wudhu adalah muqayyad yaitu sampai siku.

Apakah boleh bagi kita mentaqyid tangan dalam tayammum ini juga sampai siku dengan dalil ayat wudhu tersebut? Jawabnya adalah: Tidak. Kenapa? Karena tayammum dan wudhu berbeda hukumnya atau dengan kata lain liannal hukma mukhtalif. Tayammum terejadi hanya pada dua anggota tubuh sedangkan wudhu pada empat anggota tubuh. Tayammum adalah badal (pengganti) sedangkan wudhu adalah ashl. Tayammum itu hanya mengusap sedangkan wudhu mengusap dan membasuh. Tayammum bisa berlaku untuk hadats ashgar dan hadats akbar, wudu hanya berlaku untuk hadats ashgar, dst dst…. Sehingga apabila asahlnya berbeda maka sifatnyapun tentu berbeda. Dan dengan demikian dalam hal tayammum ini maka tidak bisa kita menggunakan yang muqayyad untuk membatasi yang muthlaq.

Contoh lainnya yang serupa adalah untuk kata tangan di ayat tentang hukuman potong tangan bagi pencuri (Al-Maidah: 38). Apakah kita boleh mentaqyid kata tangan di ayat tersebut dengan ayat wudhu ini yaitu bahwa tangan yang dipotong adalah sampai siku? Jawabnya tentu beda. Karena mencuri dan wudhu adalah dua hal yang berbeda.

Contoh lain adalah apa yang akan menjadi pembahasan kita yaitu isbal. Mari kita simak:

1.Man jarra izaarahu khuyala-a lam yanzhurillahu ilaihi yaumal qiyaamah (Barangsiapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat) (Bukhari – Muslim dari Ibnu Umar)

2.Maa asfala minal ka’baini minal izaar fafin naar (Setiap pakaian yang melebihi mata kaki maka tempatnya adalah di neraka) (Bukhari – Muslim dari Abu Hurairah)

Di hadits pertama ada taqyiid yaitu khuyalaa, yakni bagi yang memanjangkan pakaiannya karena sombong. Adapun hadits kedua muthlaq, yakni setiap yang pakaian yang dibawah mata kaki maka (pelakunya) akan masuk neraka. Muthlaq tanpa dibatasi apakah sombong atau tidak.

Apakah kita boleh membatasi hadits yang kedua ini dengan hadits yang pertama, yakni setiap pakaian yang dibawah mata kaki karena sombong maka pelakukanya akan masuk neraka?

Jawabnya: Tidak. Kenapa? Karena hukumnya berbeda. Di hadits pertama dinyatakan bagi yang memanjangkan pakaian karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat, tidak akan menyucikannya dan dia akan mendapatkan adzab yang pedih. Adapun orang yang semata-mata memanjangkan pakaiannya baik karena sombong ataupun tidak, maka dia akan masuk neraka. Adzab bagi yang kedua ini tersendiri berbeda dari yang pertama. Sehingga jika kita memaksa untuk menerapkan taqyiid pada hadits yang kedua berarti kita harus mengatakan salah satu dari dua hadits tersebut adalah dusta. Karena hukumnya akan berubah dalam hal ini adzabnya akan berubah: Setiap yang melebihi mata kaki karena sombong, maka pelakukanya akan masuk neraka. Lalu kemanakah adzab untuk hadits yang pertama? Bukankah penerapan taqyiid untuk hadits yang kedua ini menjadikan adzab bagi yang menyeret pakaiannya karena sombong seperti tercantum di hadits pertama itu akan turun derajat adzabnya dari Tidak dilihat, tidak disucikan dan akan mendapat adzab yang pedih menjadi akan masuk neraka? Jadi dengan demikian keadannya sama dengan mengatakan bahwa hadits pertama itu dusta dalam hal hukumnya, yakni tidak ada itu yang namanya tidak diihat, tidak disucikan dan adzab yang pedih, yang ada hanyalah masuk neraka. Dengan demikian maka tidak bisa kita terapkan kaidah muthlaq dan muqayyad pada dua hadits ini.

Ditambah lagi hal yang menunjukkan bahwa ini tidak bisa dilakukan adalah sifat pengamalannya sediri juga berbeda. Termasuk hadits kedua adalah orang yang memanjangkan pakaian melebihi mata kaki tapi tidak sampai menyentuh tanah. Sedangkan hadits pertama adalah untuk yang menyeret (jarra) pakaianya, sehingga dalam pengamalnnya pun jelas berbeda. Artinya apa? Kalo taqyid dipakai tentu dia harus memahami bahwa hadits kedua juga Jarra, jadi kalau hanya melebihi mata kaki namun dan tidak sampai menyentuh tanah/terseret maka tidak mengapa kendati dilakukan dengan sombong. Dan ini tentu adalah pemahaman yang keliru yang tidak seorangpun berpendapat demikian.

Bagaimana jika ada yang keukeuh pokona mah asal tidak sombong it’s Ok bro’. Toh saya memanjangkannya tidak bermaksud sombong. Maka kita tanya pada dia: lalu apa maksudmu memanjangkan pakaian kalau begitu?

Jika dia menjawab: Untuk keindahan, kepantasan dlsb… Maka kita jawab, yang seperti ini lebih jelas lagi bukan alasan untuk membawa yang muthlaq menjadi muqayyad. Maka atas dasar apa anda mengecualikan boleh kalau tidak sombong?

Jika dia menjawab: Ya hadits Abu Bakar! Kan saya sama dia di hadapan hukum Allah adalah sama, kalau dia tidak sombong boleh, maka saya pun kalau tidak sombong tentu juga boleh!

Kita jawab: Benar, anda dan Abu Bakar adalah sama di dalam hukum Allah. Akan tetapi apakah yang ada di hati anda sama dengan yang ada dihatinya Abu Baker? Coba anda cermati kata-kata Abu Bakar kepada Nabi: Yastarkhi ‘alayya (melorot). Artinya itu diluar kehendak beliau. Beliau pada asalnya adalah tidak isbal, kemudian tanpa sengaja sering melorot. Sementara anda? Anda malah sengaja meminta tukang jahit, panjangkan sekian senti, turunkan lagi sekian… Apakah yang seperti ini anda katakan anda sama dengan Abu Bakar kondisinya sehingga anda berhak mendapat hukum boleh? Ditambah lagi, melorotnya pakaian Abu Bakar itu tidak berlangsung terus menerus, tapi kadang suka melorot. Adapun anda, sepanjang hari pakaian anda senantiasa dibawah mata kaki!!! Mau beranalogi dari sisi mana lagi??!!

Keempat,Saudaraku sekalian, saya tidak mencoba mengada-ada….Cobalah untuk mengkaji dan manelusuri setiap permasalahan dengan dalil-dalinya. Sungguh banyak faidah yang akan kita peroleh. Saya malah menjadi penasaran, masih banyak dalil lain yang ternyata bisa dijadikan sandaran untuk masalah ini. Kalau saja ada kesempatan, ingin rasanya menulis kupasan secara menyeluruh.

Sangat disesalkan sebagian besar apa yang saya peroleh tidak diabadikan dalam bentuk tulisan, sehingga banyak yang hilang terlupakan. Sungguh milis ini cukup membantu untuk kembali mengumpulkan apa yang tersisa sekaligus mengabadikannya dalam bentuk tulisan. Kendati harus berpayah-payah kembali membuka buku karena yang hilang lebih banyak dari pada yang tersisa. Wabillaahi ta’ala nasta’in.

About these ads

38 Komentar »

  1. Wah, seru bahasannya, dan sedikit lelah ni.
    walhamdulillahi wahdah, semua dah jelas kok

  2. Abu Shalih Al Lamfunji said

    kalo materi-materinya dimasukkin ke buletin yang kita terbitin bagus nih.

  3. Abu Al-Jauzaa' said

    Jazakumullaahu khair atas penjelasannya yang sederhana, ringkas, dan mudah dipahami.
    Di atas Ustadz Abu Ishaq menyebutkan tentang kupasan Muthlaq dan Muqayyad yang beliau katakan telah dikupas oleh Abu ‘Umair. Tapi sayang di layar kita tercinta ini, kupasan itu belum nampak.

    Sering dikatakan bahwa hadits mengenai isbal yang menyebutkan keharaman secara umum harus dibawa kepada hadits yang mempunyai “illat” kesombongan. Terkait dengan kaidah Hamlul-Muthlaq ‘alal-Muqayyad (bisa dilihat dalam Irsyaadul-Fuhuul atau Taisirul-Ushul), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

    1. Kedua nash (muthlaq dan muqayyad) sama hukum dan sebabnya. Dalam bentuk ini membawa dalil muthlaq kepada muqayyad merupakan kesepakatan ulama’. Contoh dalam kasus ini adalah kata “darah” dalam QS. Al-Maidah ayat 3 (dalil muthlaq) dan QS. Al-An’aam ayat 145 (dalil muqayyad).

    2. Kedua nash itu berbeda hukum dan sebabnya. Dalam bentuk ini, tidak boleh membawa dalil muthlaq kepada muqayyad dan ini merupakan kesepakatan ulama’. Contohnya adalah kata “tangan” dalam QS. Al-Maidah ayat 38 (muthlaq) tentang potong tangan tidak bisa dibawa ke batasan tangan dalam QS. Al-maidah ayat 6.

    3. Kedua nash itu berbeda hukumnya tetapi sama sebabnya. Pada bentuk ini tidak boleh membawa dalil muthlaq kepada muqayyad menurut pendapat mayoritas ahli ushul. Contohnya adalah sebagaimana kasus wudlu dan tayamum sebagaimana yang dicontohkan oleh Syaikh ‘Utsaimin ketika membahas isbal dalam As-ilah Muhimmah halaman 29-30.

    4. Kedua nash itu sama hukumnya tetapi berbeda sebabnya. Pada bentuk ini dalil muthlaq tidak boleh dibawa kepada dalil muqayyad menurut pendapat mayoritas ulama Malikiyyah dan seluruh ulama Hanafiyyah. Sementara mayoritas ulama Syafi’iyyah dan ulama Hanabilah membolehkan.

    Maaf Pak Abu ‘Umair jika kalimat antum terulang di sini …………

  4. Abu Umair As-Sundawy said

    Syukran wa jazaakumullah khoiron atas tambahannya.Tidak terulang kok, karena dulu dalam diskusi ini saya hanya membawakan aqwal ulama atas persoalan ini yang memandang dari sisi muthlaq-muqoyyad.Diantaranya Ibnu Hajar dalam Fathul Baari,Imam As-Syaukani,Imam Nawawy dll sebagai bahan diskusi.

    Berikut sebagai tambahan dari tulisan Al-Akh Abu Ishaq di diawal-awal diskusi kami dulu di milis mengenai subject ini:

    Masalah isbal ada dua, karena khuyalaa’ dan tanpa khuyalaa’. Keduanya
    punya dalil tekstual yang jelas. Pendapat dengan atau tanpa khuyalaa’
    mungkin itu yang dipegang oleh kebanyakan peserta milist ini -kalau tidak
    saya katakan semua peserta-.

    Namun demikian, pendapat boleh kalau tanpa khuyalaa’ adalah pendapat jumhur dari madzhab Maliki, Syafi’I dan Hambali. Demikian juga Ibnu Taimiyyah (Syarh Umdah hal. 360an) serta para ulama lain.

    Dari kalangan muta-akhkhirin juga banyak. Syaikh Khalid bin Abdullah
    Al-Mushlih yang termasuk jejeran tetua dari para murid Imam Ibnu Utsaimin
    sekaligus menantu beliau dan salah seorang dari 4 orang murid beliau yang
    berhak menggantikan beliau di majelisnya pun berpendapat demikian. Kita
    tahu, bahwa Imam Ibnu Utsaimin berikut murid-muridnya dikenal cukup kuat
    dalam masalah ushul fiqh, namun demikian silakan lihat bagaimana guru dan murid memiliki pendapat yang berbeda dalam masalah isbal ini. Keduanya menggunakan dalil-dalil yang sama serta kaedah ushul fiqih yang sama yaitu muthlaq dan muqayyad. Tetapi tentunya keduanya berujung pada kesimpulan yang berbeda.

    Imam Ibnu Utsaimin berhenti pada keseimpulan bahwa baik dengan khuyalaa atau tanpa khuyalaa hukumnya adalah haram. Hanya saja berbeda dalam adzabnya.
    Jika dengan khuyalaa maka diadzab dengan ini dan jika tanpa khuyalaa maka diadzab dengan itu. Adapun sang murid sekaligus menantu tersebut berhenti pada kesimpulan, yang haram adalah jika dengan khuyalaa…adapun jika tanpa khuyalaa maka tidak mengapa.

    Nah, berminat untuk membahas detilnya? Lughah pasti terlibat. Mushtholah
    hadits juga demikian. Ushul fiqih? Itu pasti karena dari sinilah mereka
    berujung pada kesimpulan yang berbeda.

  5. Syamsul said

    Alhamdulillah, tulisan yang mudah dicerna dengan isi yang sangat dalam.
    Jazakallah khairan ya akhi.

  6. prawiranegara said

    alhamdulillah, jazakallah khairan atas tulisannya yang menjelaskan masalah ini, ilmu ana bertambah dalam hal ini semoga kita diberikan kekuatan untuk menimba ilmu dan mengamalkannnya sesuai alquran dan assunnah dengan pemahaman salafussalih.

  7. KANGMUS said

    Saya tidak sepakat dengan ide di atas.
    Ya, gimana lagi. Wong emang kita berbeda pendapat.
    Saya tetap mengatakan, Isbal dilarang ketika ada sikap sombong dalam diri kita ketika kita memakai celana bahkan memakai apapun yg pernah atau yang akan kita pakai. Begitu juga sebaliknya, ketika tidak ada kesombongan dalam diri kita, I think, that is ok, no problem.

    Itu artinya, kata sombong yang diletakkan di puluhan hadis yang terkait dng Isbal tidak sia-sia peletakkannya. Ada maksud tertentu yang memang seharusnya dipahami. Ya itulah sifat sombong, meskipun ketika kita memakai tidak hanya celana, sarung misalkan atau pakaian , kaos, hem, atau pakaian batik, dan sbg, selagi ada sifat kesombongan, maka itu jelas dilarang.

    Makna Isbal di situ tidak bebas nilai, bahkan dia juga terkait dengan maksud lain yaitu kebersihan; di mana negara Arab tanahnya adalah pasir yang penuh debu. Kotoran-kotoran apapun akan mudah tercampur dng debu. Karena itu Isbal dilarang. Berbeda dng di Indonesia atau negara lain yang yang tidak pasir meskipun juga banyak debu yang banyak najisnya. Apalagi jika tanpa kesombongan dan tidak ada najis debu karena sering di lantai masjid misalkan, maka Isbal is ok, why not?. Hal ini sangat sesuai dengan uraian hadis lain; Innallaha la yandzuru ila ajsamikum, wa lakinnallaha yandzuru ila qalbikum. Tuhan tidaklah melihat dari fisik anda (pakaian, sorban, jenggot, tasbih atau apapun itu), tapi Tuhan melihat hati anda (keihlasan, kebaikan, ketidak sombombongan).

    Itu artinya, selama tidak ada sikap khuyala’ atau sifat pamer, riya’, ingin dipuji karena memakai pakaian baru sok islamis, maka hal itu (isbal) is ok for me. Yeah, ISBAL sangat boleh ketika tdk ada kesombongan.

  8. Anti-Turotstsi said

    Bismillah,
    Mungkin bisa ditambahkan bagaimana penjelasan dari ustadz Abdul Hakim yang kami ketahui berpendapat tidak haramnya isbal dan beliau sendiri juga musbil (benarkah?)

  9. Abu Al-Jauzaa' said

    Betul/benar,….
    Secara umum beliau berpegang pada dalil-dalil yang menunjukkan ketidakharaman isbal (bila dilakukan tidak sombong). Secara eksplisit, beberapa diantaranya ada pada penjelasan Ustadz Abu Ishaq.

  10. Kurniawan said

    Assalamua’alikum

    Hanya Konfirmasi bahwa pendapat Ust Abdul Hakim bahwa isbal tdk Haram kalau tidak sombong adalah pendapanya dahulu semasih aktif di LIPIA dan kalau sekarang beliau merubah pendapanya ISBAL ADALAH HARAM dan ng beliau tidak ISBAL. Ini disampaikannya pada sela-sela Kajian Shohih Bukhori di Masjid Al-Mubarok Krukut Jak-Bar

  11. Abu Al-Jauzaa' said

    Dengan komentar akh @Kurniawan tersebut di atas, maka ana cabut perkataan ana di atas. Hal itu adalah karena pengetahuan ana dari penjelasan beliau di waktu lampau (dan ana sudah lama tidak mendengar penjelasan Al-Ustadz Abdul-Hakim Abdat hafidhahullah tentang masalah isbal di waktu-waktu sekarang). Mohon – kalau bisa – pak admin menghapus tulisan ana. Kalau boleh loh…. kalau nggak juga nggak apa-apa………

  12. Justice 4 All said

    Tanya ustadz, apakah keharaman mutlak Isbal merupakan ijma sahabat?

    Jazakallah….

  13. Abu Faris said

    Nanggapi dikit yah, boleh khan…? (dikit ajaa)

    Kalau isbal itu diiringi dengan khuyala’ (sombong) maka tidak ada perbedaan pendapat tentang keharamannya, bahkan termasuk kaba’ir (dosa besar). Namun, jika tanpa khuyala’, maka terdapat perbedaan pendapat sebagaimana disitir di atas. Sekiranya para Sahabat telah ijma` sebelumnya tentang keharaman isbal tanpa khuyala’ tentu tidak akan terjadi beda pendapat di kalangan ulama setelahnya, apalagi yg ‘berbeda’ atau ‘ngasih keringanan’ itu banyak ulama muhaqqiqin (jumhur?). Kalaupun ada khilaf setelah ijma` pastilah khilaf tersebut dianggap syadz (nyeleneh). Nyatanya, khilaf ini adalah khilaf mu’tabar. Bagaimana tidak mu’tabar, lha wong yg ‘memberi keringanan’ itu banyak dari kalangan ulama muhaqqiqin, semisal Ibn Taimiyyah, asy-Syaukani, dan lain-lain. WaLlahu a’lam bish shawab.

    Jadi bagaimana? Dengan demikian saudara-saudara sekalian dapat men-tarjih di antara pendapat dan dalil-dalil yg ada. Dan, Abu Ishaq telah menurunkan tarjih-nya… Atau, kalo ga bisa tarjih, silahkan ber-taqlid (ato ngikut) kepada ulama yg paling dipercayai keilmuannya dengan tidak tergesa-gesa menghukumi orang lain yg berbeda (lha wong muqallid (pen-taqlid) kok ‘sok’ menghukumi orang lain? :p)

    In sya-aLlah mungkin kapan2 saya juga akan urun rembug dg pendapat saya mengenai hal ini

    Maaf, kalo jadi agak panjang… :p

    Salam hangat,
    Abu Faris an-Nuri

  14. Yah,sok lah…ane tunggu paparan antum Pak Ustadz Adni :p
    Sebenarnya dulu saya berniat menyusun pembahasan ini, karena pertimbangan “stabilitas” milis kala itu, saya urungkan.Bahannya sudah ada, tinggal diterjemahkan dan disusun…klo sekarang, nampaknya susah meluangkan waktu…halah…Karena kebetulan Pak Adni yg jauh berilmu dari saya ada rencana juga,wah…ditunggu Pak.Kalau kesimpulan kita berbeda, akan saya coba buat bahan komparasinya :p

    Salam,
    Abu Umair As-Sundawy

  15. Abu Faris said

    Lanjut maning… (jadi panjang dech)

    Maaph… ralat… tepatnya, bukan taqlid, tapi mengikuti ulama berdasarkan dalil dan hujjah yg dibawakannya (soale definisi terminologis taqlid adalah qabul qaulu’l ghair bi la hujjah [menerima/mengikuti ucapan orang lain tanpa alasan/hujjah])

    Trus, terkait hadits Abu Bakr, gimana kalo dibilang gini: Memang benar, pada awalnya Abu Bakr-juga sahabat lainnya seperti Ummu Salamah-memahami keumuman pengharaman isbal secara mutlak, karena itulah Abu Bakr bertanya kepada Nabi SAW. Maka, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa beliau tidak terkena ancaman dimaksud, karena beliau tidak melakukan isbal secara khuyala’ (sombong).

    Nah, di sini point penting yg penting untuk jadi pertanyaan: Mengapa Nabi SAW tidak bilang: “Tidak mengapa karena tidak sengaja,” atau, “Jagalah kainmu agar tidak melorot,” atau, “Pendekkanlah lagi kainmu supaya terhindar dari isbal,” atau yg semisalnya?

    Mungkin ada yg berkata: Bagaimana dengan hadits: “al-Isbal mina’l makhilah?” (isbal itu “min” kesombongan)

    Jawabnya: Nah, di sini penting untuk dipahami apa makna “min” dari hadits dimaksud, yang mana “min” dalam bahasa Arab memiliki banyak fungsi dan arti, trus bagaimana keterkaitan dan kompromisasinya dengan hadits Abu Bakr tersebut….

    (Bersambung… in sya-aLlah, mungkin di laen waktu dan tempat)

    Salam,
    Abu Faris

  16. Abu Faris said

    @Ustadz Abu Umair
    Jangan gitu dong Bro… mungkin ada yang saya ketahui dan belum Antum ketahui, namun banyak hal yang telah Antum ketahui dan belum saya ketahui… So, jangan menunggu saya… Silahkan saja mulai dikeluarkan ‘jurus-jurus simpanan’nya… ^_^ sehingga saya cukup jadi pengamat or komentator :p

  17. al galaxy said

    afwan……….ustad Abu…..
    menambahkan pertanyaan

    kalau kita lihat sebagian diantara kaum muslimin ada yang mengangkat celana dengan cara menggulungnya saat shalat SAJA, ana kurang tahu alasannya (nebak2 saja : ada hadits yang menerangkan bahwa Allah tidak akan menerima orang yang shalat ,)

    bagaimana kira2? apakah larangan ini hanya didalam shalat saja atau secara umum?

  18. Abu Jibrin said

    @ aisar

    Apakah Rasululloh diutus hanya utk orang Arab atw seluruh makhluk di dunia ini ?

    ketika Rasululloh melarang atw menyuruh kita ttg suatu hal, Apakah kita akan berani menolak dan menjawab “ya Rasululloh, saya kan BUKAN ORANG ARAB” ?

    klo membolehkan memakai celana menutupi mata kaki dg alasan itu BUDAYA KITA, maka kita pun tidak akan bisa mendakwahi org suku terasing di papua utk menutup aurat, karena memakai koteka merupakan BUDAYA MEREKA

  19. asyarief said

    mas aisar,
    anda bisa saja beranggapan seperti itu sebagaimana sebagian orang beranggapan bahwa jilbab pun adalah budaya Arab juga.

    Padahal hal-hal tersebut, sudah jelas dalam agama ini. Sejelas kita mengambil Alquran wassunnah sebagai dasar utama dalam penentuan hukum agama.

    Saya sepakat satu hal dengan anda, kalau pun tidak isbal tapi tetap sombong, itu memang masalah. Tapi masalahnya bukan di Isbalnya tapi di sombongnya.

    Kita percaya Nabi adalah satu2nya manusia yang ma’shum dan lepas dari kesalahan. Bukankah itu berarti kita harus menaatinya, yang jelas-jelas merupakan kebenaran. Apalah sombong itu melainkan ia adalah mendustakan kebenaran dan merendahkan penganutnya.

    Satu lagi,
    sebenarnya saya sangat malu untuk posting comment disini. Karena argumen saya sama sekali rendah nilai keilmiahannya. Apalagi jika dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang di atas. Makanya, mas Aisar coba malu juga lah. Ilmu kok dibantah tidak dengan kejelasan ilmiah dalam agama. Malah hanya asumsi belaka seperti di atas ini.

    maaf ya klo ada salah kata.

    wallahu’alam

  20. Justice 4 All said

    Ringkasan yang baik dari Syaikh Al-Munajid tentang pendapat ulama dalam hal ini:

    http://www.islamqa.com/index.php?ref=102260&ln=eng&txt=garment%20ankle

    Arabnya:

    http://www.islamqa.com/index.php?ref=102260&ln=ara&txt=garment%20ankle

  21. taufik said

    benar2 bagus postingan anda wlaupun pada salah satu posting anda saya berbeda pendapat dengan anda tapi dalam hal ini anda betul2 menelusurinya dengan “cerdas”. jazakallahu khairan.

    pastinya orang2 yang beriman ketika datang hujjah yang jelas dari al-qur’an dan hadits2 yang shahih hendaknya mereka berkata “Sami’na wa atha’naa” kami mendengar dan kami taat.

  22. aisar said

    mas asyarief,
    kaitan antara ajaran Islam dan budaya Arab merupakan sebuah kajian yang sangat ilmiah, dan sangat penting dalam menentukan sikap beragama kita.

    ada kalanya ajaran Islam tampil sebagai doktrin-doktrin kaku yang tidak bisa diganggu gugat, contohnya yang berhubungan dengan tauhid, aqidah, shalat, dll. tapi ada kalanya juga Islam muncul sebagai nilai-nilai luhur, yang dapat diadopsi dan diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari dengan lebih fleksibel. di sinilah, pengaruh budaya setempat muncul.

    beberapa mazhab memandang isbal ini lebih sebagai nilai-nilai kesopanan dan kesederhanaan dalam berpakaian. lalu, bagaimana nilai-nilai ini dapat kita adposi di budaya Indonesia?

    pernahkah kita merasa, dengan menaikkan kain celana, justru dapat menimbulkan prasaan heran, bahkan prasangka negatif dari orang lain. ada yang berpikiran “sok alim banget sih”, ato “sok arab banget sih”. lha, kok malah jadinya dengan ber-Isbal kita dipandang “arogan” atau “sombong” oleh orang lain.

    menarik ini, dan akan lebih menarik lagi jika kita semua tidak kelewat fanatik terhadap satu mazhab tertentu. tidak ada salahnya sekali-kali kita coba menyelami Islam dari sudut pandang yang berbeda..

  23. salafy said

    Saya pernah mendengar rekaman ustadz Abdul Hakim Abdat yang mengatakan bahwa Isbal tidak haram, tapi paling banter MAKRUH.
    Saat itu beliau berceramah dalam rangka membantah Ustadz Jakfar Umar Thalib.

  24. Abu al- Abbas Al Munawy said

    Sudah sepantsnya bagi seorang muslim untuk berserah diri kepada ketentuan dan syari’at Allah. Apabila datang perintah dari Allah dan RasulNya tentang suatu perkara, maka perkataan seorang muslim itu adalah Sami’na wa Atho’na. Terlepas dari hukum Isbal yang sebenarnya, apakah dia itu wajib atau sunnah, maka tidak sepantasnya kita menyepelekan perkara ini. Apalagi telah datang sejumlah hadits yang shohih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ancaman orang yang musbil. Maka sudah sepantasnyalah kita berhati-hati.
    Dan yang paling selamat adalah kita keluar dari perselisihan, yakni tidak menurunkan kain kita di bawah mata kaki. Lagi pula itu tidak membutuhkan mujahadah yang sangat besar. Tinggal bagaimana kesediaan kita untuk mengamalkan sunnah yang satu ini. Dan itu juga sekaligus menunjukkan ittiba’ kita kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam. Wallahu a’lam
    Wassalam.

  25. agung said

    Assalamu’alaikum wr. wb. wah seru juga pembahasannya! ust. Abu Ishaq Umar Munawwir
    ana ikut copy paste pembahasannya ya, ana pasang di blog ana! sebenernya dah lama mo bikin artikel tentang isbal tapi ilmu blom cukup. :D
    syukran jazakallah khairan katsiran

    agung

    smilegung.multiply.com

  26. febri kristianto said

    Saya kira hadits-hadits tentang isbal cukup jelas dan detail.sebagai orang muslim kita taat dan patuh apa yang ditetapkan oleh Allah Subhanallahu wata’ala dan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.kalau masalah isbal saja ditolak tentang wajibnya bagaimana hal-hal lain masalah fiqih?? kita akan mudah menolak yang memberatkan diri kita.seperti masalah jenggot dll.

  27. asyarief said

    buat al akh aisar…

    “beberapa mazhab memandang isbal ini lebih sebagai nilai-nilai kesopanan dan kesederhanaan dalam berpakaian. lalu, bagaimana nilai-nilai ini dapat kita adposi di budaya Indonesia?”

    tolong disebutkan mazhab apa…biar para thullabul ‘ilmi ini (termasuk saya) terus mencari kebenaran dan gak nganggur…

    “pernahkah kita merasa, dengan menaikkan kain celana, justru dapat menimbulkan prasaan heran, bahkan prasangka negatif dari orang lain. ada yang berpikiran “sok alim banget sih”, ato “sok arab banget sih”. lha, kok malah jadinya dengan ber-Isbal kita dipandang “arogan” atau “sombong” oleh orang lain.”

    astaghfirullah…
    semoga kita semua tidak melalaikan kewajiban kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, hanya karena kita berusaha memenuhi harapan sesama manusia….

    “menarik ini, dan akan lebih menarik lagi jika kita semua tidak kelewat fanatik terhadap satu mazhab tertentu. tidak ada salahnya sekali-kali kita coba menyelami Islam dari sudut pandang yang berbeda..”

    yah…
    bukankah kita diperintahkan untuk mengikuti Nabi Shallahu ‘alaihi wassalam…
    dan bukan mazhab tertentu…
    makanya saya tanya ke akh aisar…
    madzhab mana yang punya sudut pandang berbeda dalam hal ini…
    ataupun sudut pandang berbeda terhadap dasar hukum agama ini…
    Alquran wassunnah….

    buktikan donk…klo anda otentik dan jelas dasar pengambilan hukumnya…
    kan katanya ilmiah…?

    dan coba dibahas lagi…
    apakah benar, masyarakat arab sebelum Islam turun, mereka sudah mengenakan jilbab dan tidak isbal?
    klo ternyata sebelum Islam mereka tidak mengenakan jilbab dan masih isbal…maka argumen yg akh aisar rasa sudah logis pun mentah lagi…
    berarti bukan masalah budaya arab kan?

  28. Dari Ats’asy bin Salim, beliau berkata: Aku mendengar bibiku bercerita dari pamannya, beliau berkata, “Ketika aku berjalan menyusuri kota Madinah, tiba-tiba ada seseorang dibelakangku yang berkata, “Tinggikan sarungmu! Karena itu lebih menunjukkan kepada ketaqwaan!” ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, aku lantas berkata “Wahai Rasulullah, ini hanyalah sebuah kain yang indah.” Beliau bersabda “Tidakkah di dalam diriku terdapat keteladanan?” setelah kupandang ternyata sarung beliau itu hingga pertengahan betis.” (HR. Tirmidzi, shahih)

  29. rijal said

    Assalamu’alaikum.
    Ana sempat awal ikut ta’lim salafy selama setahunan dlm keadaan masih musbil. Tp kayaknya gak ad sikap alergi tuh dr para ikhwah/ustadz ngelihat penampilan ikhwah yg masih musbil. Benernya masalah isbal ini ana udah lama yakin klo ini tuh gak boleh. Tp setelah saya tdk melihat adanya tentangan dr masyarakat seperti yg saya takutkan pada awalnya maka saya putuskan untuk memotong celana panjang yg saya miliki. Dn mulai beli celana 3/4.
    Kebetulan saya tinggal d kota besar yg cenderung memahami perbedaan. Saya lihat ada beberapa komunitas anak gaul yg secara zhahir “celananya nyunnah” (saya bilang scara zhahir krn saya ga tau ap mereka niatin hal tsb untuk ngikutin sunnah atw gak).
    -Anak2 skater, BMX, in line skste, dll banyak yg pake celana 3/4
    -Anak2 Punk generasinya Blink 182, Simple Plan, dll
    -Anak2 Brit Pop yg pake celana baggy sebatas d atas mata kaki
    Trus banyak lg deh, yg dr situ gw berkesimpulan klo tentangan masyarakat thd sunnah tuh y cm dilakukan ama org yg ga rela budayanya hilang aj atw ga rela kedatangan budaya baru. Org2 yg nyunnah aj yg gw liat gak pernah tuh menghina abis2an org yg masih musbil.

  30. adiputra said

    Mas Ana minta jadwal kajian Salaf di bandung donk..kirim ke emailku yah..di adiputra.bekasi@gmail.com
    makasih…

  31. HambaAllah said

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Perbedaan pendapat tentang isbal memang sudah lama ada, bukan sebuah hal yang qath’i, meski ada sebagian kalangan yang agaknya tetap memaksakan pendapatnya. Hal itu wajar dan kita harus berlapang dada.

    Walaupun sesungguhnya perbedaan pendapat itu tidak bisa dipungkiri. Sebagian mengatakan bahwa memanjangkan kain atau celana di bawah mata kaki hukumnya mutlak haram, apapun motivasinya. Namun sebagian lainnya mengatakan tidak mutlak haram, karena sangat tergantung motivasi dan niatnya.

    1. Pendapat Yang Mengatakan Mutlak Haram

    Tidak sulit untuk mencari literatur pendapat yang mengharamkan isbal secara mutlak. Fatwa-fatwa dari kalangan ulama Saudi umumnya cenderung memutlakkan keharaman isbal.

    Kalau boleh disebut sebagai sebuah contoh, ambillah misalnya fatwa Syeikh Bin Baz rahimahullah. Jelas dan tegas sekali beliau mengatakan bahwa isbal itu haram, apapun alasannya. Dengan niat riya’ atau pun tanpa niat riya’. Pendeknya, apapun bagian pakaian yang lewat dari mata kaki adalah dosa besar dan menyeret pelakunya masuk neraka.

    Beliau amat serius dalam masalah ini, sampai-sampai fatwa beliau yang paling terkenal adalah masalah keharaman mutlak perilaku isbal ini. Setidaknya, fatwa inilah yang selalu dan senantiasa dicopy-paste oleh para murid dan pendukung beliau, sehingga memenuhi ruang-ruang cyber di mana-mana. Berikut ini adalah salah satu petikan fatwa beliau:

    Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka ” [Hadits Riwayat Bukhari dalam sahihnya]

    “Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim)

    Kedua hadits ini dan yang semakna dengannya mencakup orang yang menurunkan pakaiannya (isbal) karena sombong atau dengan sebab lain. Karena Rasulullah SAW mengucapkan dengan bentuk umum tanpa mengkhususkan. Kalau melakukan Isbal karena sombong, maka dosanya lebih besar dan ancamannya lebih keras.

    Tidak boleh menganggap bahwa larangan melakukan Isbal itu hanya karena sombong saja, karena Rasullullah SAW tidak memberikan pengecualian hal itu dalam kedua hadist yang telah kita sebutkan tadi, sebagaiman juga beliau tidak memberikan pengecualian dalam hadist yang lain.

    Beliau SAW menjadikan semua perbuatan isbal termasuk kesombongan karena secara umum perbuatan itu tidak dilakukan kecuali memang demikian. Siapa yang melakukannya tanpa diiringi rasa sombong maka perbuatannya bisa menjadi perantara menuju ke sana. Dan perantara dihukumi sama dengan tujuan, dan semua perbuatan itu adalah perbuatan berlebihan-lebihan dan mengancam terkena najis dan kotoran.

    Adapun Ucapan Nabi SAW kepada Abu Bakar As Shiddiq ra. ketika berkata: Wahai Rasulullah, sarungku sering melorot (lepas ke bawah) kecuali aku benar-benar menjaganya. Maka beliau bersabda:

    “Engkau tidak termasuk golongan orang yang melakukan itu karena sombong.” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

    Yang dimaksudkan oleh oleh Rasulullahbahwa orang yang benar-benar menjaga pakaiannya bila melorot kemudian menaikkannya kembali tidak termasuk golongan orang yang menyeret pakaiannya karena sombong. Karena dia (yang benar-benar menjaga ) tidak melakukan Isbal. Tapi pakaian itu melorot (turun tanpa sengaja) kemudian dinaikkannya kembali dan menjaganya benar-benar. Tidak diragukan lagi ini adalah perbuatan yang dimaafkan.

    Adapun orang yang menurunkannya dengan sengaja, apakah dalam bentuk celana atau sarung atau gamis, maka ini termasuk dalam golongan orang yang mendapat ancaman, bukan yang mendapatkan kemaafan ketika pakaiannya turun. Karena hadits-hadits shahih yang melarang melakukan Isbal besifat umum dari segi teks, makna dan maksud.

    Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati terhadap Isbal. Dan hendaknya dia takut kepada Allah ketika melakukannya. Dan janganlah dia menurunkan pakaiannya di bawah mata kaki dengan mengamalkan hadits-hadits yang shahih ini. Dan hendaknya juga itu dilakukan karena takut kepada kemurkaan Alllah dan hukuman-Nya. Dan Allah adalah sebaik-baik pemberi taufiq.

    [Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Bazz dinukil dari Majalah Ad Da’wah hal 218]

    2. Pendapat Yang Mengharamkan Bila Dengan Niat Riya’

    Sedangkan pendapat para ulama yang tidak mengharamkan isbal asalkan bukan karena riya, di antaranya adalah pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang yang dengan sukses menulis syarah (penjelasan) kitab Shahih Bukhari. Kitab beliau ini boleh dibilang kitab syarah yang paling masyhur dari Shahih Bukhari. Beliau adalah ulama besar dan umat Islam berhutang budi tak terbayarkan kepada ilmu dan integritasnya.

    Khusus dalam masalah hukum isbal ini, beliau punya pendapat yang tidak sama dengan Syeikh Bin Baz yang hidup di abad 20 ini. Beliau memandang bahwa haramnya isbal tidak bersifat mutlak. Isbal hanya haram bila memang dimotivasi oleh sikap riya’. Isbal halal hukumnya bila tanpa diiringi sikap itu.

    Ketika beliau menerangkan hukum atas sebuah hadits tentang haramnya isbal, beliau secara tegas memilah maslah isbal ini menjadi dua. Pertama, isbal yang haram, yaitu yang diiringi sikap riya’. Kedua, isbal yang halal, yaitu isbal yang tidak diiringi sikap riya’. Berikut petikan fatwa Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

    وفي هذه الأحاديث أن إسبال الإزار للخيلاء كبيرة, وأما الإسبال لغير الخيلاء فظاهر الأحاديث تحريمه أيضا, لكن استدل بالتقييد في هذه الأحاديث بالخيلاء على أن الإطلاق في الزجر الوارد في ذم الإسبال محمول على المقيد هنا, فلا يحرم الجر والإسبال إذا سلم من الخيلاء

    Di dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa isbal izar karena sombong termasuk dosa besar. Sedangkan isbal bukan karena sombong (riya’), meski lahiriyah hadits mengharamkannya juga, namunhadits-hadits ini menunjukkan adalah taqyid (syarat ketentuan) karena sombong. Sehingga penetapan dosa yang terkait dengan isbal tergantung kepada masalah ini. Maka tidak diharamkan memanjangkan kain atau isbalasalkan selamatdari sikap sombong. (Lihat Fathul Bari, hadits 5345)

    Al-Imam An-Nawawi

    Al-Imam An-Nawawi rahimahullah adalah ulama besar di masa lalu yang menulis banyak kitab, di antaranya Syarah Shahih Muslim. Kitab ini adalah kitab yang menjelaskan kitab Shahih Muslim. Beliau juga adalah penulis kitab hadits lainnya, yaitu Riyadhus-Shalihin yang sangat terkenal ke mana-mana. Termasuk juga menulis kitab hadits sangat populer, Al-Arba’in An-Nawawiyah. Juga menulis kitab I’anatut-Thalibin dan lainnya.

    Di dalam Syarah Shahih Muslim, beliau menuliskan pendapat:

    وأما الأحاديث المطلقة بأن ما تحت الكعبين في النار فالمراد بها ما كان للخيلاء, لأنه مطلق, فوجب حمله على المقيد. والله أعلم

    Adapun hadits-hadits yang mutlak bahwa semua pakaian yang melewati mata kaki di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan oleh orang yang sombong. Karena dia mutlak, maka wajib dibawa kepada muqayyad, wallahu a’lam.

    والخيلاء الكبر. وهذا التقييد بالجر خيلاء يخصص عموم المسبل إزاره ويدل على أن المراد بالوعيد من جره خيلاء. وقد رخص النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك لأبي بكر الصديق رضي الله عنه, وقال, ” لست منهم ” إذ كان جره لغير الخيلاء

    Dan Khuyala’ adalah kibir (sombong). Dan pembatasan adanya sifat sombong mengkhususkan keumuman musbil (orang yang melakukan isbal) pada kainnya, bahwasanya yang dimaksud dengan ancaman dosa hanya berlaku kepada orang yang memanjangkannya karena sombong. Dan Nabi SAW telah memberikan rukhshah (keringanan) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra seraya bersabda, “Kamu bukan bagian dari mereka.” Hal itu karena panjangnya kain Abu Bakar bukan karena sombong.

    Maka klaim bahwa isbal itu haram secara mutlak dan sudah disepakati oleh semua ulama adalah klaim yang kurang tepat. Sebab siapa yang tidak kenal dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Al-Imam An-Nawawi rahimahumallah. Keduanya adalah begawan ulama sepanjang zaman. Dan keduanya mengatakan bahwa isbal itu hanya diharamkan bila diiringi rasa sombong.

    Maka haramnya isbal secara mutlak adalah masalah khilafiyah, bukan masalah yang qath’i atau kesepakatan semua ulama. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Dan itulah realitasnya.

    Pendapat mana pun dari ulama itu, tetap wajib kita hormati. Sebab menghormati pendapat ulama, meski tidak sesuai dengan selera kita, adalah bagian dari akhlaq dan adab seorang muslim yang mengaku bahwa Muhammad SAW adalah nabinya. Dan Muhammad itu tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlaq.

    Pendapat mana pun dari ulama itu, boleh kita ikuti dan boleh pula kita tinggalkan. Sebab semua itu adalah ijtihad. Tidak ada satu pun orang yang dijamin mutlak kebenaran pendapatnya, kecuali alma’shum Rasulullah SAW. Selama seseorang bukan nabi, maka pendapatnya bisa diterima dan bisa tidak.

    Bila satu ijtihad berbeda dengan ijtihad yang lain, bukan berarti kita harus panas dan naik darah. Sebaliknya, kita harus mawas diri, luas wawasan dan semakin merasa diri bodoh. Kita tidak perlu menjadi sok pintar dan merasa diri paling benar dan semua orang harus salah. Sikap demikian bukan ciri thalabatul ilmi yang sukses, sebaliknya sikap para juhala’ (orang bodoh) yang ilmunya terbatas.

    Semoga Allah SWT selalu menambah dan meluaskan ilmu kita serta menjadikan kita orang yang bertafaqquh fid-din, Amin Ya Rabbal ‘alamin.

    Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Sumber: Jawaban Ust. Ahmad Sarwat, Lc dalam rubrik Ustadz Menjawab Eramuslim.com

  32. ass wr wb

    nama saya fariz, menarik skali artikel di atas, berhubung ana baru belajar ushul fiqh, ada yg bs mnjlaskan ttg kaidah muthlaq & muqayyad itu sendiri.

    jazz.

    fariz

    farizabdulrachman@yahoo.com
    kk169_cs@syariahmandiri.co.id
    021 92901686

  33. febri kristianto said

    tentang Ustadz Ahmad Sarwat LC, sering dalam memberikan jawaban tidak merojihkan suatu pendapat ulama.seringkali dia buat mengambang si penanya,malah dalam kasus yang penting contohnya masalah Qunut.

    Mengenai jawaban tentang Abu Bakar Ash Syidiq tidak sombong,Dalam Hadits tidak dijelaskan seperti (mohon koreksi).

    LIhat perkataan Imam Ibnu Hazar “Sedangkan isbal bukan karena sombong (riya’), meski lahiriyah hadits mengharamkannya juga” jadi tetap mengharamkan juga.

  34. hidayat said

    assalamualaikum
    atas jawaban sodara febri,,
    diatas kan sudah dijelaskan dari ustadz alwat, kenapa antum ngomong klo ustadz alwat tidak merojihkan kepada suatu ulama…
    padahal diatas sudah dijelaskan fatwa2 isbal ada 3 ulama besar…

  35. agus Al jauzi said

    alhamdulillah,, semoga kia semua termasuk org2 yg diberi keselamatan oleh Allah Ta’ala. NO ISBAL.

  36. thowaleeb said

    Ustadz Syarwat membuat mengambang? maksudnya semua keputusan fiqih harus tegas satu bentuk?…
    Ada hukum fiqih yang tak punya pilihan ada yang memberikan kesempatan pilihan ganda… Yakini semaksimal mungkin pilihan kita dengan mengekor kepada ulama yang punya hujjah yang baik, jangan jadi penjarh sebelum waktunya… kalau ada ulama yang menjarh seseorang atau suatu hukum, itu hak dan kapasitas beliau… tidak aman kita ikut2an menjarh, sebagaimana memilih mau pakai sombong atau tidak lebih baik tidak isbal…(ini cara amannya pilihan saya), tanpa ikut-ikutan menegaskan haramnya isbal dengan atau tanpa sombong…

  37. thowaleeb said

    Febri saudaraku:
    islam itu sangat dalam feb,…

  38. Abu Ingkie Habibie ihsan said

    @ Hamba Allah.

    Benarkah Imam Ibnu Hajar membolehkan Isbal jika tanpa kesombongan.kalau begitu mengapa beliau menyimpulkan bahasan tentang Isbal dengan ungkapan seperti ini :

    وَحَاصِله أَنَّ الْإِسْبَال يَسْتَلْزِم جَرّ الثَّوْب وَجَرّ الثَّوْب يَسْتَلْزِم الْخُيَلَاء وَلَوْ لَمْ يَقْصِد اللَّابِس الْخُيَلَاء , وَيُؤَيِّدهُ مَا أَخْرَجَهُ أَحْمَد بْن مَنِيع مِنْ وَجْه آخَر عَنْ اِبْن عُمَر فِي أَثْنَاء حَدِيث رَفَعَهُ: وَإِيَّاكَ وَجَرّ الْإِزَار فَإِنَّ جَرّ الْإِزَار مِنْ الْمَخِيلَة

    “Kesimpulannya, Isbal melazimkan menyeret pakaian, dan menyeret pakaian melazimkan kesombongan, meski pelakunya tidak bermaksud sombong. Kesimpulan ini juga dikuatkan oleh hadits: ‘Janganlah meng-isbal-kan sarungmu! Karena meng-isbal-kan sarung termasuk perbuatan sombong.” (Fathul Bari jilid:13, hal: 267).

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: